Jelang Peringatan Wafatnya Isa Al-Masih, Paroki Tangerang Perketat Keamanan

Romo Kristiono didampingi salah seorang pengurus.

TANGERANG,BANTENEKSPRES.CO ID – Menjelang peringatan wafatnya Isa Al-Masih dan perayaan Paskah 2026, Gereja Katolik Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) – Paroki Tangerang menyatakan kesiapan penuh dalam menyambut ribuan umat.

Paroki Tangerang juga melakukan kerjasama dengan pihak kepolisian guna memperketat keamanan. Hal ini disampaikan oleh Romo Athanasius Kristiono Purwadi saat ditemui pada Kamis, 2 April 2024.

Bacaan Lainnya

Romo Kristiono mengatakan, seluruh elemen gereja, mulai dari petugas liturgi, tim koor, hingga para romo, telah melakukan persiapan intensif untuk rangkaian Tri Hari Suci, meliputi Kamis Putih, Jumat Agung (Tablo), Sabtu Vigili, hingga Minggu Paskah.

Guna menjamin kekhusyukan ibadah, kata Romo Kristiono, pihak panitia telah berkoordinasi erat dengan kepolisian, termasuk kesediaan tim Penjinak Bom dari Polres Tangerang Kota hingga melakukan penyisiran di area gereja sebagai langkah antisipasi standar.

“Dari sisi keamanan, panitia telah berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengantisipasi arus dan juga keamanan. Hari ini pihak kepolisian mengadakan penyisiran oleh tim Jipom atau Jihandak,” ujar Romo Kristiono.

Dia menyebut. Gereja HSPMTB diperkirakan akan menampung hingga 6 ribu umat dalam satu sesi misa. Untuk mengantisipasi kepadatan.

Romo Kristiono memaparkan, pihak gereja secara masif mengimbau umat melalui media sosial dan grup WhatsApp untuk menggunakan transportasi publik demi mengurangi kemacetan dan mempercepat akses masuk. Selain itu, umat dapat memanfaatkan kantong parkir yang telah disediakan di sisi kanan Jalan Daan Mogot dan area di samping Sungai Cisadane.

Romo Kristiono menyampaikan, perayaan Paskah tahun ini mengusung tema nasional hasil kolaborasi dengan PGI, yaitu “Kristus Bangkit Memperbarui Kehidupan Kita”. Secara khusus, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) yang menaungi Paroki Tangerang mempertajam tema tersebut menjadi “Keutuhan Alam Ciptaan”.

Dia berharap, tema ekologis ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar meresap dalam batin umat. Ia juga menekankan pentingnya kehadiran gereja yang inklusif bagi masyarakat sekitar.

“Harapannya umat bisa merasakan tema ini bergaung dalam batin. Sekaligus, warga setempat bisa merasakan kehadiran perayaan Katolik sebagai hal yang menggembirakan, tidak menakutkan, dan tidak mengganggu,” pungkasnya.(*)

Reporter : Abdul Aziz

 

Pos terkait