SERPONG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Peringatan malam Nuzulul Qur’an menjadi momen bagi umat Islam untuk merefleksikan diri di tengah kesibukan duniawi. Dalam tausiyahnya, pada acara peringati malam Nuzulul Qur’an (Selasa malam 10 Maret 2026), penceramah Fikri Haikal MZ menekankan bahwa esensi Ramadan adalah tentang keseimbangan hubungan dan pengendalian diri dari keinginan yang tidak ada habisnya. Keseimbangan hubungan menjadi dua yaitu, Hablum Minallah dan Hablum Minannas.
Fikri MZ mengingatkan bahwa kesalehan seorang Muslim tidak hanya diukur dari ibadah ritual semata. Fikri menekankan pentingnya menjaga hubungan baik kepada Allah sekaligus kepada sesama manusia.
“Hablum Minallah selalu beririsan dengan Hablum Minannas,” ucap Fikri Haikal MZ.
Menurutnya, tidak sempurna seseorang jika hanya fokus pada ibadah kepada Allah saja. Namun, abai terhadap hubungan sosial. “Enggak sempurna seseorang kalau Hablum Minallah-nya bagus tapi Hablum Minannas-nya jelek. Begitupun sebaliknya, Hablum Minannas-nya bagus tapi Hablum Minallah-nya lupa, itu enggak bagus juga,” tambahnya.
Menjinakkan Nafsu yang “Selengean”
Mengupas tentang hikmahnya berpuasa. Fikri Haikal MZ menjelaskan bahwa puasa adalah sarana utama untuk melatih kendali atas hawa nafsu. Ia menggambarkan watak dasar nafsu manusia yang cenderung keras kepala dan sulit diatur.
Fikri mengisahkan dialog antara Allah dengan nafsu. Saat ditanya mengenai jati dirinya, nafsu menjawab dengan gaya yang menantang atau “selengean”.
“Nafsu menjawab, ‘Saya ya saya, Anda ya Anda, enggak ada urusan kita’. Jawabannya selengean, semaunya sendiri, seanak udele dewe,” ujar Fikri Haikal MZ yang disambut tawa jamaah saat itu.
Meskipun telah dihukum di neraka panas dan dingin selama ribuan tahun, nafsu tetap tidak tunduk. Nafsu baru mengakui kekuasaan Allah setelah dimasukkan ke dalam neraka.
“Begitu diangkat dari neraka lapar, nafsu sudah letoy, lempeng, loyo,” jelasnya. Saat itulah nafsu baru bersaksi, “Saya adalah hamba-Mu, engkau adalah Tuhan-ku,” tegasnya.
Fikri Haikal MZ juga menyoroti sifat manusia yang tidak pernah puas. Ia mengingatkan bahwa keinginan manusia itu tidak terbatas, namun kemampuan manusia sangatlah terbatas.
“Manusia itu puas kalau nanti mulutnya sudah disumpal pakai tanah, sudah menghadap ke kiblat, dibungkus pakai kain kafan,” tuturnya.
Ia memberikan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti keinginan memiliki motor atau mobil yang terus bertambah, yang jika tidak dikendalikan dengan puasa, akan menjerumuskan manusia pada ketidakpuasan abadi.
Melalui momentum Nuzulul Qur’an dan ibadah puasa, Fikri Haikal MZ mengajak jamaah untuk mengubah nafsu yang buruk menjadi Nafsul Mutmainnah, yaitu hawa nafsu yang telah dikendalikan menjadi hal-hal yang baik dan positif. (*)









