“Kalau semua hanya berdasarkan jarak rumah ke sekolah, siswa berprestasi jadi terabaikan. Ini yang bikin banyak orang tua kecewa,” ujarnya.
Untuk itu, ia mendesak pemerintah untuk mengevaluasi sistem Sistem Penerimaan Murid Baru tahun ini dan mengembalikan penggunaan nilai akademik seperti NEM sebagai tolak ukur seleksi masuk sekolah negeri, terutama sekolah favorit.
“Tanpa tolak ukur akademik yang objektif, mutu pendidikan terancam menurun dan semangat kompetisi sehat antar siswa menjadi hilang,” paparnya.
Sebagai informasi, SPMB 2025 terdiri dari empat jalur seleksi, terdiri dari jalur domisili, berdasarkan jarak tempat tinggal ke sekolah, dibuktikan dengan Kartu Keluarga atau surat keterangan domisili. Jalur Afirmasi, diperuntukkan bagi siswa dari keluarga kurang mampu atau penyandang disabilitas. Jalur Prestasi, berdasarkan nilai rapor, sertifikat akademik maupun non-akademik, dan jalur mutasi untuk siswa yang orang tuanya pindah tugas dinas. (fad)











