“Momen ini tentu saja bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebuah kesempatan untuk merenungkan dan mengkaji legasi yang telah ditinggalkan oleh Maulana Hasanuddin, seorang tokoh yang sangat berpengaruh bagi kita semua,” katanya.
Menurutnya, Legasi Maulana Hasanuddin terukir dalam berbagai naskah sejarah, hikayat, dan catatan perjalanan dari para penjelajah. Naskah-naskah ini, baik dalam aksara Jawa maupun aksara Pegon, menjadi sumber penting yang menggambarkan perjalanan dan kontribusi beliau. Di antara poin-poin penting legasi tersebut, kita dapat menyoroti beberapa aspek kunci.
“Mulai dari Tarekat Sufi, Penyebaran Agama Islam, Kemampuan Politik dan Pemerintahan, Visi Ekonomi Perdagangan, dan Integrasi Sosial,” ujarnya.
Lebih lanjut, Maulana Hasanuddin tidak hanya meninggalkan warisan fisik, tetapi juga nilai-nilai yang terus relevan hingga kini. Beliau mengajarkan pentingnya keterbukaan komunikasi, yang menekankan dialog sebagai cara untuk menyelesaikan perbedaan.











