TIGARAKSA,BANTENESKPRES.CO.ID – SMPN 5 Tigaraksa turut berpartisipasi dalam kegiatan Sosialisasi dan Edukasi HIV/AIDS tingkat SMP se-Kabupaten Tangerang yang dilaksanakan pada 20–21 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peserta didik mengenai HIV/AIDS sejak usia remaja.
Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tangerang ini merupakan bagian dari program Roadshow Edukasi HIV/AIDS ke sejumlah sekolah tingkat SMP.
Pelaksanaan kegiatan tersebut juga melibatkan REPLIKA dan Dinas Kesehatan melalui Puskesmas sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam memberikan pemahaman yang benar kepada generasi muda mengenai HIV/AIDS.
Kepala SMPN 5 Tigaraksa Heri Severianto mengatakan, edukasi HIV/AIDS sangat penting diberikan kepada peserta didik agar mereka memiliki pengetahuan yang benar serta tidak mudah terpengaruh informasi keliru yang beredar di lingkungan masyarakat maupun media sosial.
Menurutnya, usia remaja merupakan masa penting dalam pembentukan karakter dan pola pikir. Karena itu, sekolah memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pelajaran akademik, tetapi juga menyangkut kesehatan dan kehidupan sosial peserta didik.
“Kami menyambut baik kegiatan sosialisasi dan edukasi HIV/AIDS ini. Materi seperti ini sangat penting diketahui oleh para siswa agar mereka memahami apa itu HIV/AIDS, bagaimana cara penularannya, serta langkah-langkah pencegahan yang harus dilakukan,” ujarnya kepada Banteneskpres.co.id, Rabu 4 November 2026.
Heri menjelaskan, melalui sosialisasi tersebut para siswa diharapkan dapat memperoleh informasi yang tepat dan dapat membedakan antara fakta dan informasi yang tidak benar mengenai HIV/AIDS.
Ia menilai, pemahaman yang baik akan membantu siswa lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan diri serta mampu mengambil keputusan yang positif dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan sampai anak-anak mendapatkan informasi yang salah. Dengan adanya edukasi langsung dari pihak yang berkompeten, mereka bisa memahami persoalan HIV/AIDS secara benar. Pengetahuan ini menjadi bekal penting bagi mereka dalam menjaga kesehatan dan masa depan,” katanya.
Selain memberikan pemahaman mengenai pencegahan, Heri juga menekankan pentingnya menanamkan sikap kepedulian dan menghargai sesama. Menurutnya, orang dengan HIV (ODHIV) tidak boleh mendapatkan perlakuan diskriminatif maupun dijauhi dalam kehidupan sosial.
“Kami juga ingin anak-anak memahami bahwa seseorang yang hidup dengan HIV tetap memiliki hak yang sama untuk dihargai dan mendapatkan perlakuan yang baik. Jangan sampai muncul stigma atau tindakan diskriminasi hanya karena kurangnya pengetahuan,” tegasnya.
Ia berharap, kegiatan edukasi tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi di sekolah saja, tetapi juga dapat diteruskan oleh para siswa kepada teman sebaya maupun keluarga di lingkungan masing-masing.
Dengan begitu, informasi mengenai HIV/AIDS dapat semakin luas diterima masyarakat dan mendorong tumbuhnya kepedulian bersama terhadap upaya penanggulangannya.
“Kami berharap siswa bisa mengambil pelajaran dari kegiatan ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka harus menjadi generasi yang memiliki pengetahuan, mampu menjaga diri, serta mempunyai kepedulian terhadap orang lain,” ungkapnya.
Heri menambahkan, pihak sekolah akan terus mendukung berbagai program edukasi kesehatan yang dilaksanakan pemerintah maupun instansi terkait. Sebab, pembentukan generasi muda yang sehat harus dilakukan melalui kerja sama antara sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
“Harapan kami, melalui kegiatan seperti ini anak-anak semakin sadar akan pentingnya kesehatan. Bukan hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki karakter yang baik, saling menghormati, dan tidak memberikan stigma kepada orang lain,” pungkasnya. (*)
Reporter: Randy Yastiawan











