MAUK,BANTENEKSPRES.CO.ID – Kawasan Ketapang Urban Aquaculture (KUA) di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, kini dinilai sepi pengunjung.
Kondisi ini berdampak buruk bagi para pedagang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di sekitarnya yang terpaksa gulung tikar akibat penurunan omzet secara drastis.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang didesak untuk segera mengevaluasi manajemen pengelolaan destinasi ekowisata tersebut.
Sekretaris Desa (Sekdes) Ketapang Ahmad Kamal Irfan Zamzani yang akrab disapa Irfan menyampaikan, pengelolaan KUA sebaiknya dialihkan ke Badan Usaha Milik Desa (Bumdesa) atau setidaknya menjalin kolaborasi erat dengan Bumdes setempat.
Menurut Irfan, KUA sempat menjadi destinasi favorit dan dipadati wisatawan saat masih dikelola oleh Bumdes.
Kala itu, tarif tiket masuk dan parkir yang terjangkau membuat daya tarik wisata ini tinggi, sehingga mampu menggerakkan roda ekonomi warga lokal dan memberikan omzet menjanjikan bagi pelaku UMKM.
Irfan menegaskan, selain berfungsi sebagai area konservasi mangrove, KUA sejak awal juga ditujukan sebagai kawasan wisata lokal untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.
Evaluasi manajemen pengelolaan oleh Pemkab Tangerang dinilai menjadi langkah krusial agar kawasan ekowisata mangrove ini dapat kembali hidup dan bergairah seperti sedia kala. (*)











