Perempuan Kabupaten Tangerang Didorong Makin Berdaya, dari Ekonomi hingga Politik

Foto bersama Kepala DP3A Kabupaten Tangerang, Ratih Rahmawati dengan Bidang Pemberdayaan Perempuan

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Tangerang terus memperkuat pemberdayaan perempuan melalui berbagai program yang menyasar aspek ekonomi, pendidikan, sosial budaya, hingga peningkatan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan perempuan memiliki kesempatan yang lebih luas dalam mengembangkan potensi, meningkatkan kemandirian, serta mengambil peran dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.

Bacaan Lainnya

Hotmaruli Saragih, Ketua Tim Kerja Peningkatan Kualitas Perempuan dan Keluarga, mengatakan saat ini terdapat sejumlah program yang secara khusus mendukung pemberdayaan perempuan di Kabupaten Tangerang. Seperti Ruang Bersama Indonesia (RBI), Gerakan Sayang Ibu, Dharma Wanita Persatuan, serta Gabungan Organisasi Wanita.

Hotma menjelaskan, RBI merupakan transformasi dari program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak. Tahun ini, program tersebut mulai dikembangkan di Kecamatan Gunung Kaler. Fokusnya mencakup peningkatan kapasitas perempuan dalam bidang pendidikan, ekonomi, hukum dan hak asasi manusia.

“Keseluruhan kegiatan ini mendukung pemberdayaan perempuan, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, politik, hukum dan HAM,” kata Hotma, Selasa 22 September 2026.

Persoalan perempuan, kata Hotma, memiliki keterkaitan di setiap sektor. Oleh karena itu, pengembangan RBI tahun ini dilakukan berdasarkan 15 indikator dan berkolaborasi dengan 23 organisasi perangkat daerah (OPD).

“Harapannya sesuai dengan target yang kita capai, perempuan tangguh secara ekonomi, pendidikan, sosial budaya, hukum dan HAM,” kata Hotma.

Selain itu, DP3A Kabupaten Tangerang juga gencar menjalankan program Gerakan Sayang Ibu. Program tersebut dijalankan di sejumlah lingkungan, mulai dari kecamatan, rumah sakit hingga perusahaan.

Gerakan ini diarahkan untuk mendukung perempuan dan keluarga, khususnya dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Tangerang.

Hotma mengatakan, meskipun sektor kesehatan menjadi leading sektor Dinas Kesehatan, pihaknya tetap mengambil peran dari sisi pemberdayaan perempuan.

“Output-nya adalah mendukung perempuan dan keluarga supaya angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Tangerang menurun. Kami hadir sebagai pemberdayaan perempuannya untuk mendukung pemberdayaan perempuan di kecamatan, di rumah sakit maupun di perusahaan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, program pemberdayaan juga menyasar lingkungan keluarga Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Tangerang. Di DWP, istri ASN secara rutin diberdayakan di bidang pendidikan, bidang ekonomi dan bidang sosial budaya.

“Kegiatannya masih berjalan tiap bulan, juga mendukung pemberdayaan perempuan, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, sosial, hukum dan HAM,” tuturnya.

Dukungan pemberdayaan perempuan juga dilakukan terhadap Serikat Perempuan Kepala Keluarga. Dalam hal ini, kata Hotma, pihaknya mendorong supaya perempuan yang memiliki tanggung jawab besar dalam memenuhi kebutuhan keluarga bisa mandiri secara ekonomi. Dukungan tersebut telah berjalan sejak lama dan menjadi bagian dari perhatian Pemkab Tangerang.

“Iya, kalau bentuk programnya salah satu untuk kegiatan pemberdayaan ekonomi, kami juga mendukung kegiatan Serikat Perempuan Kepala Keluarga. Kebetulan memang kegiatan ini sudah sejak lama,” katanya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Tangerang, Tuti Sujana, mengatakan organisasi ini menjadi wadah koordinasi berbagai organisasi perempuan di Kabupaten Tangerang.

GOW Kabupaten Tangerang melakukan pemberdayaan di berbagai bidang, seperti bidang sosial, bidang ekonomi, bidang organisasi, bidang pendidikan, bidang politik, hukum dan HAM.

Saat ini terdapat 30 organisasi perempuan yang tergabung dalam GOW. Di antaranya PKK, Dharma Wanita, Persit KCK 0510 Kodim, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Bhayangkari Polres dan sejumlah organisasi lainnya.

Tuti mengatakan GOW terus mendorong peningkatan kapasitas perempuan melalui berbagai kegiatan.
Program tersebut antara lain penguatan kepemimpinan dan partisipasi, penguatan peran perempuan di masyarakat, serta peningkatan nilai dan aktualisasi diri.

“Intinya kita ini perempuan yang harus berdaya. Semua itu sudah menyatu dalam GOW,” ujar Tuti.

Menurut Tuti, dukungan terhadap organisasi perempuan menjadi penting karena masih banyak perempuan di Kabupaten Tangerang yang membutuhkan ruang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kepercayaan diri.

Ia mengatakan, melalui berbagai pelatihan, perempuan didorong agar tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu mengembangkan potensi yang dimiliki untuk membantu perekonomian keluarga.

Salah satunya melalui pelatihan berbasis teknologi dan pembuatan cenderamata. Keterampilan tersebut kemudian diarahkan agar dapat dikembangkan menjadi usaha dan dipasarkan secara daring.

“Menambah penghasilan keluarga. Walaupun mungkin dari suami ada, perempuan juga harus bisa berkarya,” katanya.

Tuti juga menilai perubahan pola pikir menjadi bagian penting dalam pemberdayaan perempuan. Menurutnya, perempuan tidak seharusnya membatasi diri hanya pada ruang domestik, tetapi harus memiliki kesempatan untuk belajar, bekerja, berusaha dan berkontribusi dalam kehidupan masyarakat.

“Perempuan harus tetap semangat. Perempuan harus bisa lebih bagus dari laki-laki. Jangan diam, pasrah. Kita harus bisa membangun diri,” ucapnya.

Penguatan kapasitas organisasi perempuan juga dilakukan melalui kegiatan capacity building. Kegiatan tersebut diarahkan untuk membuat organisasi perempuan semakin kuat dan tangguh dalam menjalankan perannya.

Materi yang diberikan antara lain personal branding dan pelatihan kepribadian. Menurut Tuti, keterampilan tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan kepercayaan diri perempuan sehingga mereka lebih siap mengambil peran di ruang publik.

“Kebetulan beberapa tahun lalu kita pernah melakukan capacity building. Supaya 30 organisasi semakin kuat, semakin tangguh, karena isinya kan perempuan, supaya dengan adanya pelatihan ini mendukung perempuan lebih mandiri,” katanya.

Menurutnya, pemberdayaan perempuan juga perlu menyentuh berbagai bidang, termasuk ekonomi, pendidikan, hukum, sosial dan budaya. Dengan bekal tersebut, perempuan diharapkan memiliki kesiapan untuk mengambil peran dalam pengambilan keputusan.

Ia mencontohkan keterlibatan perempuan dalam politik sebagai salah satu ruang yang masih perlu terus didorong. Menurutnya, organisasi perempuan dapat menjadi tempat untuk mempersiapkan kader-kader perempuan agar memiliki kepercayaan diri dan kapasitas ketika ingin berkontribusi di lembaga perwakilan.

“Ketika ada pelatihan dari sisi ekonomi, pendidikan, hukum, sosial dan budaya, harapan kami dari 30 organisasi ke depan ada yang duduk di parlemen. Kalau bukan perempuan, siapa lagi yang memperjuangkan perempuan?” katanya.

Tuti juga menyampaikan bahwa GOW berencana mendorong kader-kader perempuan dari berbagai organisasi agar memiliki keberanian untuk terjun ke politik. Salah satunya melalui pelatihan yang menghadirkan narasumber dari partai politik maupun unsur DPRD.

“Kita adakan pelatihan untuk membawa kader dari tiap-tiap organisasi, supaya nanti banyak yang berani untuk terjun ke politik,” ujar Tuti.

Seluruh rangkaian program tersebut, kata dia, pada akhirnya diarahkan untuk membangun perempuan yang lebih percaya diri, mandiri dan mampu melihat peluang.

Menurutnya, perubahan pola pikir menjadi modal penting agar perempuan tidak hanya menunggu kesempatan, tetapi mampu mengambil kesempatan yang tersedia melalui pendidikan, pelatihan, usaha maupun keterlibatan dalam organisasi.

“Dari perempuan untuk perempuan. Kami hadir untuk mendukung perempuan, atau organisasi Kabupaten Tangerang hadir untuk mendukung program Kabupaten Tangerang,” katanya. (*)

 

 

Pos terkait