TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Mengabdi di dunia pendidikan bukan sekadar menjalankan profesi. Bagi Amsarudin Ruslani, menjadi pendidik merupakan panggilan untuk terus memberikan manfaat, bahkan ketika masa pengabdiannya sebagai aparatur negara telah berakhir.
Kepala SMP Negeri 3 Kota Tangerang ini telah melewati perjalanan panjang di dunia pendidikan. Dari seorang guru honorer di Rangkasbitung hingga dipercaya menakhodai sekolah yang berada di Jalan Raden Saleh, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang.
Perjalanan karier Amsarudin tidak diraih dalam waktu singkat. Sebelum resmi diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) melalui Surat Keputusan (SK) pada 1998, ia terlebih dahulu mengawali pengabdiannya sebagai guru honorer di wilayah Rangkasbitung.
“Saya sebelumnya guru honorer di Rangkasbitung, kemudian pindah ke Kota Tangerang, ngajar di sini,” kata Amsarudin saat ditemui, belum lama ini.
Setahun kemudian, pada 1999, ia mendapat penugasan mengajar di SMPN 18 Kota Tangerang selama sekitar dua tahun. Perjalanan kariernya kemudian terus berkembang melalui berbagai penugasan di sejumlah sekolah di Kota Tangerang.
Sebelum dipercaya menjadi kepala sekolah, Amsarudin juga harus mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) khusus selama enam bulan sesuai regulasi yang berlaku saat itu.
Setelah melalui proses tersebut, pada April 2022 ia resmi dipercaya menjadi Kepala SMPN 3 Kota Tangerang. Dalam perjalanan tugasnya, ia juga pernah mengabdi di SMPN 18, SMPN 3, serta menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMPN 28 Kota Tangerang.
“Plt saya tercatat paling lama, yaitu dua tahun,” ujarnya.
Perjalanan itu kemudian membawanya kembali ke SMPN 3 Kota Tangerang. Pada Januari 2026, Amsarudin kembali menerima SK sebagai kepala sekolah di tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
“Balik lagi ke sini, dapat SK Januari 2026 sebagai kepala sekolah di sini,” katanya.
Sebagai putra asli Tangerang, Amsarudin memahami bahwa tantangan dunia pendidikan terus berubah. Memasuki era digital, menurutnya, guru harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan zaman agar proses pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, ia mengingatkan agar pendidikan tidak kehilangan sentuhan manusiawi.
Menurutnya, teknologi hanya menjadi alat. Peran guru dalam membimbing, memberikan perhatian, serta menanamkan nilai-nilai karakter tetap menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang disiplin, cerdas dan bermoral.
“Guru harus fleksibel mengikuti perkembangan zaman. Tapi yang tidak boleh hilang adalah bagaimana kita membimbing anak dengan hati dan kasih sayang,” tuturnya.
Masa pengabdian Amsarudin sebagai PNS dijadwalkan berakhir pada Agustus 2027. Namun, bagi dirinya, masa pensiun bukan berarti berhenti mengabdi.
Ia justru berencana tetap berkecimpung di dunia pendidikan dengan mengajar di sekolah swasta setelah memasuki masa pensiun.
“Jadi saya meskipun nanti pensiun akan terus mengabdikan diri di dunia pendidikan. Ini bentuk dedikasi tulus saya untuk mencerdaskan anak bangsa tanpa terhalang oleh waktu,” jelasnya.
Bagi Amsarudin, pendidikan tidak mengenal batas usia. Proses belajar dan mengajar juga tidak semestinya berhenti hanya karena seseorang telah memasuki masa pensiun.
Baginya, menjadi pendidik adalah pengabdian sepanjang hayat. Selama masih mampu berbagi ilmu dan pengalaman, ia ingin terus membuka ruang bagi anak-anak untuk mendapatkan hak dan kesempatan belajar, baik melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal.
Semangat itulah yang membuat perjalanan panjang Amsarudin di dunia pendidikan belum menemukan titik akhir. Sebab baginya, mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan yang tidak mengenal batas usia.











