CURUG,BANTENEKSPRES.CO.ID — SDN Curug III terus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada para siswa. Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi pemilahan sampah organik dan nonorganik yang diberikan kepada siswa di lingkungan sekolah.
Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman sejak dini kepada siswa mengenai jenis-jenis sampah, sehingga mereka dapat membedakan sampah yang masih bisa diolah dengan sampah yang memang tidak dapat dimanfaatkan kembali.
Kepala SDN Curug III Siti Barkah mengatakan, edukasi mengenai sampah menjadi hal penting karena kebiasaan menjaga lingkungan harus ditanamkan sejak usia sekolah.
“Anak-anak perlu mengetahui bahwa sampah itu tidak semuanya sama. Ada sampah organik dan ada sampah nonorganik. Dengan mengenal jenisnya, mereka akan lebih mudah untuk memilah dan menentukan sampah tersebut akan dibuang atau masih bisa diolah,” ujar Siti kepada Bantenekspres.co.id, Rabu 16 September 2026.
Menurutnya, pemilahan sampah bukan hanya sekadar memisahkan sampah berdasarkan jenisnya, tetapi juga menjadi langkah awal dalam mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa membuang sampah harus dilakukan dengan bijak. Jangan sampai semua sampah langsung dibuang begitu saja, karena semakin banyak sampah yang dibuang tentunya akan menambah beban tempat pembuangan akhir,” katanya.
Ia menambahkan, persoalan sampah membutuhkan kesadaran bersama. Karena itu, sekolah berupaya membangun kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan siswa setiap hari, mulai dari mengurangi penggunaan barang sekali pakai hingga membuang dan memilah sampah pada tempatnya.
“Pencegahan itu bisa dimulai dari diri sendiri. Anak-anak kami ajarkan untuk tidak terlalu banyak menghasilkan sampah. Kalau ada barang yang masih bisa digunakan kembali, jangan langsung dibuang,” ungkapnya.
Dalam sosialisasi tersebut, siswa juga diberikan penjelasan mengenai sampah yang dapat diolah. Sampah organik, misalnya, dapat dimanfaatkan melalui proses pengolahan tertentu, sementara sejumlah sampah nonorganik seperti botol plastik, kardus dan bahan lainnya dapat dipilah untuk digunakan kembali atau didaur ulang.
“Anak-anak juga kami berikan pemahaman bahwa ada sampah yang sebenarnya masih mempunyai manfaat. Sampah yang dipilah dengan baik bisa digunakan kembali, didaur ulang, bahkan bisa memiliki nilai ekonomis,” jelas Siti.
Ia berharap, pemahaman tersebut dapat membuat siswa tidak lagi memandang sampah sebagai sesuatu yang tidak berguna.
“Jangan sampai anak-anak berpikir bahwa semua yang sudah menjadi sampah itu tidak ada nilainya. Ada yang bisa dimanfaatkan kembali dan ada yang bisa diolah menjadi barang baru,” tuturnya.
Siti menegaskan, kebiasaan memilah sampah harus dilakukan secara konsisten agar menjadi bagian dari perilaku sehari-hari siswa, bukan hanya dilakukan ketika ada kegiatan sosialisasi di sekolah.
“Kami ingin pemilahan sampah ini menjadi kebiasaan. Setelah mendapatkan sosialisasi, anak-anak bisa menerapkannya di sekolah maupun di rumah,” katanya.
Menurutnya, langkah kecil yang dilakukan para siswa apabila dilakukan secara bersama-sama akan memberikan dampak terhadap kebersihan lingkungan.
“Kalau satu anak bisa mengurangi dan memilah sampah, kemudian dilakukan oleh seluruh siswa, tentu jumlah sampah yang dibuang bisa lebih terkendali. Ini yang ingin kami tanamkan kepada anak-anak,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan, bahwa sampah yang menumpuk dapat menimbulkan berbagai persoalan lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Karena itu, upaya pengurangan dan pengolahan sampah perlu dilakukan sejak dari sumbernya.
“Jangan menunggu sampah menumpuk baru kita mencari solusinya. Pengelolaan harus dimulai dari awal, yaitu dengan mengurangi sampah, memilah, kemudian mengolah sampah yang masih bisa dimanfaatkan,” paparnya.
Siti berharap, sosialisasi tersebut dapat membentuk siswa yang lebih cermat dalam memperlakukan sampah sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu mana sampah organik dan nonorganik, tetapi juga memahami apa yang harus dilakukan setelah sampah tersebut dipilah,” pungkasnya. (*)
Reporter: Randy Yastiawan











