Sachrudin Ajak Warga Jadikan Maulid Sebagai Momentum Menelandani Akhlak Rasulullah

Wali Kota Tangerang Sachrudin memberikan sambutan pada acara muludan tiga masjid di Masjid Agung Al-Ittihad, Kota Tangerang, Selasa (25/8). Dhuyuf/Banten Ekspres

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Wali Kota Tangerang Sachrudin mengajak masyarakat menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Sachrudin, nilai-nilai kepedulian, kebaikan, kebersamaan, sikap rendah hati, serta saling menghargai yang diajarkan Rasulullah penting diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Bacaan Lainnya

Pesan tersebut disampaikan Sachrudin saat menghadiri penutupan rangkaian kegiatan Maulid Nusantara yang berlangsung selama lima hari sejak 21 Agustus 2026. Rangkaian kegiatan ditutup melalui gelaran Muludan Tiga Masjid di Masjid Agung Al-Ittihad, Kota Tangerang, Selasa (25/8).

“Peringatan Maulid ini bukan hanya soal memperingati hari lahirnya Baginda Rasulullah SAW saja. Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa meneladani akhlak Rasulullah yang bisa kita terapkan sehari-hari dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujar Sachrudin.

Ia mengatakan, Rasulullah merupakan sosok pemimpin yang memiliki ketegasan sekaligus kelembutan. Karena itu, keteladanan tersebut perlu diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.

“Beliau seorang pemimpin yang tegas, tapi menunjukkan kelembutan-Nya. Beliau kuat, tapi menunjukkan kerendahan hati-Nya. Mengajarkan kita untuk terus berbuat baik, meningkatkan kepedulian sosial kita, membangun kebersamaan, saling menghargai. Ini yang paling penting,” katanya.

Ia menilai kegiatan Muludan Tiga Masjid memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat bagi masyarakat Tangerang. Kegiatan tersebut mempertemukan tradisi dari Masjid Jami Kalipasir, Masjid Raya Al-A’zhom, dan Masjid Agung Al-Ittihad.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, kirab gunungan atau tumpeng dilakukan dari dua arah, yakni Masjid Jami Kalipasir dan Masjid Raya Al-A’zhom, kemudian bertemu di Masjid Agung Al-Ittihad. Ia menilai kirab tersebut bukan sekadar bagian dari perayaan Maulid, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat.

“Kirab gunungan yang dilaksanakan dua arah dari Masjid Jami Kalipasir, Masjid Raya Al-A’zhom, dan ketemunya di sini, titiknya di Masjid Agung Al-Ittihad. Ini menunjukkan semangat kebersamaan,” ujarnya.

Sachrudin menambahkan, tradisi Muludan antara Masjid Jami Kalipasir dan Masjid Agung Al-Ittihad telah berlangsung selama puluhan tahun. Kehadiran Masjid Raya Al-A’zhom kemudian memperluas semangat kebersamaan tersebut melalui konsep Muludan Tiga Masjid.

Sementara itu, Ketua Panitia Muludan Al-Ittihad Maulid Tiga Masjid, Farhan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk kegembiraan masyarakat dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ia menyebut penyelenggaraan Muludan Al-Ittihad tahun ini merupakan yang keempat. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari penutupan rangkaian Festival Maulid Nusantara ke-7 yang diselenggarakan Dispora bersama Sahabat Ansor.

“Ini sebagai bentuk kegembiraan kita dalam rangka merayakan kelahiran Baginda Nabi Besar Rasulullah Muhammad SAW. Yang alhamdulillah pada tahun ini, kita penyelenggaraan yang kali keempat ya kalau untuk Muludan Al-Ittihad ini,” ujar Farhan.

Menurutnya, tahun ini terdapat kolaborasi yang lebih luas dengan melibatkan tiga masjid ikonik, yakni Masjid Agung Al-Ittihad, Masjid Raya Al-A’zhom, dan Masjid Jami Kalipasir.

Farhan menjelaskan, ketiga masjid tersebut memiliki nilai sejarah dan identitas tersendiri bagi masyarakat Tangerang. Masjid Jami Kalipasir dikenal sebagai salah satu masjid tertua, Masjid Agung Al-Ittihad memiliki sejarah panjang sebagai tempat masyarakat dan tokoh agama berkumpul, sementara Masjid Raya Al-A’zhom menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Kota Tangerang.

“Masjid Kalipasir kenapa disebut ikonik? Karena memang tertua di Tangerang. Dan kalau untuk Masjid Agung, semua sudah tahu dan meyakini bahwa semua dari orang-orang tua kita—baik itu pejabat, para ulama, kiai, pedagang, para ASN—semua berkumpulnya di sini, di Masjid Agung Al-Ittihad, untuk tidak hanya sekadar beribadah, tapi bermuamalah,” katanya.

Ia berharap kolaborasi tiga masjid tersebut dapat menjadi sarana memperkuat persatuan masyarakat tanpa membedakan wilayah administratif.

“Maka kami berkolaborasi membentuk Muludan ini untuk supaya masyarakat Tangerang secara umum, tidak terbatas oleh administrasi Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, atau Kabupaten Tangerang, semua hayu sama-sama kita guyub, sama-sama kita bersatu dalam rangka khususnya merayakan kelahiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW,” tuturnya.

Selain memperkuat kecintaan kepada Rasulullah, Farhan mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi upaya melestarikan tradisi masyarakat Kalipasir, seperti arak-arakan perahu dan gunungan. Ia berharap generasi muda dapat mengenal dan menjaga tradisi tersebut agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Kita sebagai masyarakat Tangerang, khususnya Kota Tangerang dan khususnya Kalipasir, ini menjadi satu kebanggaan agar supaya adik-adik kita, anak-anak kita nanti ke depan tahu bahwa kita punya tradisi yang luar biasa. Dan ini tidak boleh hilang. Ini harus selalu dilestarikan untuk kita semua, anak cucu kita,” katanya. (*)

Reporter: M. Dhuyuf Khuzaimi

Pos terkait