SERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Warga Lingkungan Sukadiri, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, punya cara unik memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Bertempat di kawasan bersejarah Keraton Surosowan, Banten Lama, warga menggelar drama kolosal yang mengangkat kisah perjuangan tokoh-tokoh Banten.
Drama kolosal tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan kemerdekaan yang digelar warga secara gotong royong. Sekitar 500 hingga 600 warga turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Ketua Sukadiri Squad, Miftahullah, mengatakan drama kolosal sengaja dipilih untuk mengenalkan kembali sejarah perjuangan Banten kepada generasi muda.
“Konsepnya kita memakai drama kolosal yang mengangkat tokoh-tokoh pahlawan Banten. Tujuannya agar anak muda zaman sekarang tahu siapa tokoh pahlawan Banten sesungguhnya,” kata Miftahullah.
Dalam pementasan, cerita mengambil latar Banten pada masa perjuangan kemerdekaan. Kisah tersebut menceritakan empat pemuda yang membawa mandat dari Bung Karno untuk menyebarkan kabar bahwa Indonesia telah merdeka.
Keempat pemuda itu kemudian tiba di Banten dan bertemu dengan KH Ahmad Khotib serta KH Syam’un. Keduanya digambarkan sebagai tokoh lokal yang turut menyebarluaskan berita Proklamasi 17 Agustus 1945 kepada masyarakat Banten.
Pemilihan Keraton Surosowan sebagai lokasi pementasan juga bukan tanpa alasan. Situs tersebut merupakan salah satu peninggalan penting dari Kesultanan Banten sehingga dinilai tepat untuk menjadi latar kegiatan yang mengangkat sejarah dan budaya Banten.
Selain drama kolosal, warga juga membentangkan bendera Merah Putih berukuran panjang yang mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan karnaval mengelilingi kawasan sekitar Sukadiri.
Miftahullah menyebut persiapan kegiatan dilakukan sekitar satu bulan. Seluruh rangkaian acara dilaksanakan secara swadaya dengan melibatkan masyarakat dan pemuda setempat.
Menurutnya, peringatan kemerdekaan tidak hanya menjadi momentum untuk merayakan kemerdekaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda.
“Bukan hanya perayaan, tetapi kami ingin mengingatkan kembali sejarah dan budaya Banten kepada anak-anak muda,” ujarnya.
Antusiasme warga pun terlihat sepanjang kegiatan. Bagi masyarakat Sukadiri, drama kolosal menjadi cara sederhana untuk membuat sejarah lebih dekat dengan generasi muda sekaligus menjaga semangat gotong royong di tengah masyarakat. (*)
Reporter: Aldi Alpian Indra











