Puskesmas Pagedangan Edukasi Catin soal KB dan Kesehatan Reproduksi, Cegah Stunting Sejak Dini

SOSIALISASI: Puskesmas Pagedangan melakukan sosialisasi kepada calon pengantin baru mengenai Keluarga Berencana. Randy/Bantenekspres.co.id

PAGEDANGAN,BANTENEKSPRES.CO.ID — Puskesmas Pagedangan terus memperkuat upaya promotif dan preventif dalam bidang kesehatan melalui sosialisasi Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan reproduksi bagi calon pengantin (catin).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada pasangan yang akan menikah agar memiliki pengetahuan yang cukup dalam merencanakan kehidupan berkeluarga, termasuk merencanakan kehamilan secara aman, mengatur jarak kelahiran, serta mempersiapkan kondisi kesehatan ibu dan anak.

Bacaan Lainnya

Kepala Puskesmas Pagedangan dr. Zairin Rambe mengatakan, edukasi kepada calon pengantin merupakan langkah penting karena kesehatan keluarga perlu dipersiapkan sejak sebelum pasangan memasuki fase kehamilan.

“Calon pengantin perlu mendapatkan informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga. Persiapan tidak hanya berkaitan dengan pernikahan, tetapi juga bagaimana nantinya pasangan dapat merencanakan kehamilan dengan baik,” ujarnya kepada Bantenekspres.co.id, Selasa 11 Agustus 2026.

Menurutnya, perencanaan kehamilan dapat membantu pasangan menentukan waktu yang tepat untuk memiliki anak sekaligus memperhatikan kondisi kesehatan calon ibu maupun calon ayah.

“Kita ingin pasangan memahami bahwa kehamilan sebaiknya direncanakan. Kondisi kesehatan ibu harus diperhatikan, begitu juga dengan kesiapan pasangan secara fisik maupun mental,” katanya.

Dalam sosialisasi tersebut, calon pengantin juga diberikan pemahaman mengenai berbagai pilihan metode kontrasepsi. Edukasi diberikan agar pasangan dapat mengenal metode KB dan menentukan pilihan yang sesuai berdasarkan kondisi serta kebutuhan keluarga.

“Kontrasepsi bukan hanya untuk membatasi jumlah anak, tetapi juga membantu pasangan mengatur jarak kehamilan. Dengan jarak kelahiran yang direncanakan, kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak diharapkan dapat lebih optimal,” jelasnya.

Zairin menambahkan, pemahaman mengenai KB juga penting agar pasangan tidak mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum tentu benar. Karena itu, calon pengantin didorong untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menentukan metode kontrasepsi.

“Kami memberikan informasi secara terbuka mengenai pilihan metode KB. Jika pasangan masih memiliki pertanyaan atau kekhawatiran, dapat berkonsultasi langsung dengan petugas kesehatan sehingga mendapatkan penjelasan yang sesuai,” tuturnya.

Selain KB, Puskesmas Pagedangan turut memberikan edukasi mengenai kesiapan reproduksi. Hal tersebut mencakup pentingnya memperhatikan kondisi kesehatan sebelum merencanakan kehamilan, termasuk pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin.

“Kesiapan reproduksi harus menjadi perhatian. Sebelum hamil, calon ibu maupun calon ayah perlu mengetahui kondisi kesehatannya. Pemeriksaan dan konsultasi sejak awal akan membantu menemukan apabila ada faktor risiko yang perlu ditangani,” ungkapnya.

Ia menegaskan, edukasi kesehatan reproduksi juga memiliki kaitan erat dengan upaya pencegahan stunting. Menurutnya, pencegahan gangguan pertumbuhan anak perlu dilakukan sedini mungkin, bahkan sebelum kehamilan terjadi.

“Pencegahan stunting tidak dimulai ketika anak sudah lahir saja. Persiapannya harus dilakukan sejak sebelum kehamilan, melalui kesehatan dan kecukupan gizi calon ibu, kemudian berlanjut selama masa kehamilan sampai anak mendapatkan pengasuhan dan asupan yang baik,” katanya.

Ia menjelaskan, periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena itu, pemenuhan gizi sejak masa sebelum kehamilan, kehamilan, hingga setelah kelahiran perlu menjadi perhatian bersama.

“Gizi harus dipersiapkan sejak sebelum hamil. Ibu yang sehat dan memiliki status gizi yang baik akan menjadi salah satu modal penting untuk kehamilan yang sehat dan melahirkan anak yang sehat,” jelasnya.

Puskesmas Pagedangan juga terus mendorong adanya kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kantor Urusan Agama (KUA) dan penyuluh KB setempat, agar edukasi bagi calon pengantin dapat dilakukan secara berkelanjutan.

“Kerja sama dengan KUA maupun penyuluh KB sangat penting. Calon pengantin yang datang untuk mempersiapkan pernikahan sekaligus bisa mendapatkan pembekalan mengenai kesehatan reproduksi, KB, gizi, dan pencegahan stunting,” tuturnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran pasangan sejak awal mengenai pentingnya membentuk keluarga yang sehat dan berkualitas.

“Kami berharap calon pengantin tidak hanya siap secara administrasi dan sosial untuk menikah, tetapi juga siap dari sisi kesehatan. Pengetahuan yang diberikan hari ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi mereka dalam menjalani kehidupan berkeluarga,” tutupnya. (*)

Pos terkait