TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Kisah pelik dialami warga Kampung Kadu Agung, RT 01/RW 04, Desa Margasari, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, selama puluhan tahun.
Ketika memasuki musim kemarau, sumur-sumur warga mengering. Selama musim ini warga harus bergantung pada air galon isi ulang atau bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang warga, Nurhayati (41), mengaku keluarganya hanya bisa memperoleh sedikit air dari sumur pada pagi hari. Selebihnya, sumur sudah tidak lagi mengeluarkan air sehingga aktivitas rumah tangga sepenuhnya bergantung pada pasokan air bersih dari pemerintah.
“Kalau di rumah paling pagi dapat dua ember. Siang paling seember, malam juga paling seember. Setelah itu sudah enggak ada air lagi. Kalau enggak ada bantuan ini, bingung,” ujar Nurhayati, Selasa 28 Juli 2026.
Nurhayati menuturkan, bantuan air bersih menjadi penyelamat bagi warga selama musim kemarau. Air tersebut dimanfaatkan untuk mandi, memasak, hingga kebutuhan konsumsi setelah dimasak terlebih dahulu.
“Alhamdulillah ada bantuan. Airnya bersih, bisa buat mandi, masak, bahkan kalau lagi enggak ada uang buat beli air minum, air bantuan ini dimasak,” katanya.
Untuk kebutuhan air minum, Nurhayati mengaku terkadang masih harus membeli air galon. Namun saat kondisi ekonomi sedang sulit, keluarganya memilih memanfaatkan air bantuan yang telah direbus.
Selama lebih dari dua bulan terakhir, warga mengandalkan distribusi air bersih yang datang secara berkala. Menurut Nurhayati, pengisian toren dilakukan sekitar dua hari sekali sehingga warga tidak sampai benar-benar kehabisan air.
“Pokoknya enggak nunggu kosong, diisi terus. Jadi kami sangat terbantu,” ujarnya.
Ia menuturkan, kekeringan bukanlah persoalan baru bagi warga Kampung Kadu Agung. Hampir setiap tahun mereka harus menghadapi kondisi serupa saat musim kemarau tiba. Bahkan pada tahun lalu, krisis air bersih berlangsung hingga sekitar tujuh bulan.
“Setiap tahun memang begini. Tahun kemarin hampir tujuh bulan. Sekarang baru dua bulan lebih,” ungkapnya.
Nurhayati mengatakan, seluruh warga di Kadu Agung merasakan dampak kekeringan. Dengan jumlah warga yang mencapai sekitar 100 kepala keluarga, kebutuhan air bersih menjadi persoalan yang selalu muncul setiap musim kemarau.
Ia berharap pemerintah tidak hanya terus menyalurkan bantuan air bersih, tetapi juga menambah titik penampungan air agar lebih dekat dengan permukiman warga.
“Harapan saya torennya jangan cuma di satu tempat. Kalau bisa ada lagi di atas, biar warga enggak kejauhan ngambil air,” katanya.
Sebagai ibu yang memiliki anak berusia tiga tahun, Nurhayati mengaku seluruh kebutuhan air keluarganya, termasuk untuk sang anak, kini mengandalkan bantuan tersebut.
“Kalau enggak ada air itu lebih pusing. Bukan cuma mikirin enggak ada uang, tapi enggak ada air juga bikin pusing. Harapan kami semoga selama musim kemarau bantuan air bersih terus ada, supaya warga tidak kekurangan air,” ucapnya. (*)











