TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Di tengah padatnya jadwal sebagai seorang pramugari, Regina Nastalia Shanifa tak pernah membayangkan dirinya akan berdiri di antara para finalis terbaik Putra-Putri Otonomi Indonesia 2026. Perempuan 23 tahun asal Kecamatan Pagedangan itu kini menjadi salah satu wakil yang membawa nama Kabupaten Tangerang ke tingkat nasional setelah berhasil menembus 20 besar finalis dari ratusan peserta se-Indonesia.
Perjalanan Regina bukanlah kisah tentang persiapan panjang selama berbulan-bulan atau dukungan tim besar yang selalu mendampingi. Justru sebaliknya.
Ia memulai langkahnya dengan waktu yang sangat terbatas.
Berawal dari terpilih sebagai Nong Kabupaten Tangerang pada 2025, Regina kemudian dipercaya oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dispora) Kabupaten Tangerang untuk mewakili daerahnya dalam ajang Putra-Putri Otonomi Indonesia 2026.
Ajang bergengsi tersebut diikuti oleh perwakilan dari 416 kabupaten di seluruh Indonesia. Dari ratusan peserta, seleksi kemudian menyisakan 60 orang, lalu mengerucut menjadi 29 semifinalis yang mengikuti audisi di Jakarta. Dari sana, hanya 20 peserta terbaik yang berhak melaju ke babak grand final di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
“Alhamdulillah bisa masuk 20 besar. Ini tentu menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar untuk membawa nama Kabupaten Tangerang,” ujar Regina.
Namun di balik pencapaian itu, tersimpan cerita perjuangan yang tidak mudah. Saat peserta lain telah mempersiapkan diri berbulan-bulan bahkan hingga setahun sebelumnya, Regina harus berpacu dengan waktu.
Kesibukannya sebagai pramugari membuat ia harus membagi fokus antara pekerjaan dan persiapan kompetisi. Bahkan, sehari setelah menjalani penerbangan terakhirnya, Regina langsung mengikuti audisi nasional.
“Tanggal 1 Juni saya masih terbang. Setelah last flight, besoknya langsung audisi. Jadi memang benar-benar mepet, tidak ada jeda sama sekali,” kenangnya.
Meski demikian, ia tak menyerah pada keterbatasan. Di sela-sela tugasnya, Regina menyisihkan waktu untuk mempelajari materi seputar otonomi daerah, wawasan kebangsaan, hingga potensi Kabupaten Tangerang yang akan dipresentasikan di hadapan dewan juri.
Dukungan juga datang dari Dispora Kabupaten Tangerang, para senior Kang-Nong, serta rekan-rekannya yang terus memberikan semangat meski sebagian hanya bisa mendampingi dari kejauhan.
Saat tiba di lokasi audisi, Regina sempat terkejut melihat kesiapan peserta dari daerah lain. Banyak di antara mereka datang bersama tim lengkap, mulai dari desainer, fotografer, videografer, hingga pendamping khusus.
“Saya waktu itu cuma ditemani satu orang senior Kang-Nong. Baru sadar kalau ini ajang nasional dan persaingannya luar biasa,” katanya sambil tertawa.
Namun keterbatasan itu justru menjadi pelecut semangat. Regina memilih fokus pada penampilan dan kemampuan dirinya saat menghadapi lima sesi penilaian, mulai dari kepribadian, wawasan, otonomi daerah, bakat, hingga wawancara mendalam bersama para juri.
Baginya, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak materi yang dikuasai, tetapi juga bagaimana seseorang mampu menunjukkan karakter dan kepribadian di hadapan publik.
“Mungkin yang pintar banyak, yang cantik juga banyak. Tapi yang punya karakter, manner, attitude, itu yang harus ditunjukkan,” tuturnya.
Di ajang nasional tersebut, Regina membawa misi besar untuk memperkenalkan Kabupaten Tangerang kepada masyarakat Indonesia. Ia menyoroti berbagai potensi unggulan daerah, mulai dari wisata berbasis lingkungan seperti Ketapang Urban Aquaculture (KUA), hingga kearifan lokal yang dimiliki Kabupaten Tangerang.
Selain itu, berbagai produk UMKM lokal juga menjadi bagian dari promosi yang akan ia lakukan melalui video profil dan berbagai kegiatan selama kompetisi berlangsung.
Sebagai generasi muda, Regina ingin menjadi jembatan antara pemerintah daerah dengan kalangan anak muda, sekaligus menunjukkan bahwa Kabupaten Tangerang memiliki banyak potensi yang layak dikenal secara nasional.
Kini, menjelang grand final di Deli Serdang, optimisme terus menyala dalam dirinya. Dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Tangerang menjadi energi tambahan untuk memberikan yang terbaik. Bagi Regina, perjalanan ini bukan hanya tentang kompetisi, melainkan tentang keberanian untuk percaya pada kemampuan diri sendiri.
“Setiap orang punya potensi masing-masing. Tinggal bagaimana kita mau menggali dan mengembangkannya. Jangan biarkan lingkungan atau hal-hal negatif menghalangi mimpi kita,” pesannya. (*)
Reporter: Dani mukarom











