Lurah Bagas Kembalikan Marwah Desa Lebak Wangi

Samsudin, S.E. (Lurah Bagas), Kepala Desa Lebak Wangi, Tangerang. Foto: Zakky Adnan/bantenekspres.co.id

SEPATANTIMUR,BANTENEKSPRES.CO.ID – Menjadi pemimpin di salah satu desa dengan wilayah terluas dan penduduk terbanyak di Kecamatan Sepatan Timur bukanlah perkara mudah.

Dinamika urbanisasi yang pesat, pergeseran budaya hingga tuntutan pelayanan 24 jam menjadi makanan sehari-hari bagi Samsudin, S.E., Kepala Desa Lebak Wangi, Kabupaten Tangerang.

Bacaan Lainnya

Namun, bagi pria yang akrab disapa Lurah Bagas ini, jabatan bukanlah panggung kekuasaan, melainkan sebuah ruang pengabdian mutlak.

“Garis besar seorang pemimpin adalah pelayan. Kalau kita menyadari hal itu, kita harus siap melayani masyarakat kapan pun,” ujarnya hangat dengan nada kalem, Kamis, 18 Juni 2026.

​Bagi warga Desa Lebak Wangi, nama Samsudin mungkin kalah familier dibanding nama ‘Lurah Bagas’. Uniknya, nama Bagas bukanlah nama resmi yang tertera di ijazah atau kartu identitasnya.

“Bukan berarti nama Samsudin itu enggak bagus, itu bagus sekali. Tapi Bagas ini awalnya dari pergaulan, nama beken atau nama gaul lah. Bagi saya, Bagas itu sekaligus doa,” ungkapnya sambil tersenyum.

​Nama yang melekat dari lingkaran pertemanan ini justru membawa berkah. Lewat nama itulah ia dikenal sebagai sosok yang inklusif, membumi dan tanpa sekat dengan warga.

Di luar jam dinasnya yang padat, pria dengan latar belakang pendidikan ekonomi ini adalah sosok keluarga yang sederhana.

Meluangkan waktu makan bersama keluarga di hari Sabtu atau menyalurkan hobi memancing menjadi cara andalannya untuk mengisi kembali energi.

​Sebelum mendedikasikan hidupnya untuk desa, Lurah Bagas adalah seorang karyawan di sebuah koperasi.

Memiliki latar belakang ilmu ekonomi, ia sempat punya mimpi besar untuk murni berwirausaha agar bisa mengatur waktunya sendiri bersama keluarga.

​Namun, panggilan jiwa berkata lain, seiring berjalannya waktu, muncul motivasi kuat dalam dirinya untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi orang banyak dalam skala yang lebih luas.

Langkah berjenjang ke dunia politik pun ia tempuh, membawa misi perubahan untuk Desa Lebak Wangi.

​Sebagai desa yang berbatasan dengan kemajuan zaman, Lebak Wangi menghadapi tantangan unik, gelombang urbanisasi membuat masyarakatnya kian heterogen dengan tingkat SDM menengah ke atas.

Di satu sisi ini adalah kemajuan, namun di sisi lain, nilai-nilai lokal dan sifat gotong-royong perlahan mulai terkikis oleh sikap individualis.

​Tantangan terberat Lurah Bagas justru bukan membangun infrastruktur fisik, melainkan membangun mentalitas dan menjaga adat istiadat.

​”PR saya yang paling berat itu mau mengembalikan marwah desa. Kita tumbuh dan dilahirkan di sini, maka kita harus mempersiapkan masa depan anak cucu kita dari desa ini sendiri,” tegasnya.

​Di era keterbukaan informasi, kritik tajam di media sosial atau protes langsung dari warga adalah hal yang lumrah. Alih-alih antikritik atau responsif negatif, Lurah Bagas justru menganggap kritik sebagai vitamin dalam pemerintahan.

​Baginya, tidak ada istilah ‘kritik pedas’ atau ‘kritik tajam’ yang perlu ditakuti. Namun, ia juga mengedukasi warga agar kritik yang disampaikan berjalan beriringan dengan solusi.

​”Kalau ada yang harus diperbaiki, ayo kita duduk bareng, kita berdiskusi. Insyaallah kalau duduk bareng nanti akan ketemu titik terang dan solusinya,” tuturnya bijak.

​Setiap pemimpin ingin meninggalkan jejak kebaikan (legacy). Saat ditanya mengenai pencapaian yang paling berkesan, Lurah Bagas langsung mengenang kondisi infrastruktur awal saat ia pertama kali menjabat.

​Dulu, Kantor Desa Lebak Wangi kerap dicemooh karena kondisinya yang sempit dan memprihatinkan, bahkan sempat dijuluki seperti ‘kandang burung’ atau ‘kandang kambing’.

​Kini, pemandangan tersebut telah berubah total. Berkat kerja keras pemerintah desa dan doa seluruh masyarakat, Lebak Wangi kini memiliki gedung kantor desa yang megah, representatif dan mampu bersaing dengan desa-desa maju lainnya di Kabupaten Tangerang.

​Saat berbicara mengenai masa depan ketika kelak tidak lagi menjabat, jawaban Lurah Bagas sungguh menyentuh.

Ketakutan terbesarnya bukan kepada penilaian masyarakat atau kehilangan jabatan, melainkan dampak moral terhadap keturunannya.

​”Saya jangan sampai ketika jadi kepala desa, ada cerita buruk yang saya lakukan, sehingga anak cucu saya malu untuk mengakui saya sebagai orang tuanya,” ungkapnya dengan nada serius.

​Bagi Lurah Bagas, hukum tabur tuai adalah kepastian. Keburukan maupun kebaikan yang ia lakukan hari ini sebagai kepala desa akan menjadi cerita yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Ia hanya ingin diingat sebagai pemimpin yang menutup masa jabatan dengan meninggalkan nama yang bersih, harum dan membawa maslahat bagi Desa Lebak Wangi. (*)

Reporter: Zakky Adnan

Pos terkait