TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – SDN Daan Mogot 1 melakukan langkah progresif dengan merutinkan pertemuan parenting bersama wali murid setiap satu bulan sekali, guna menyelaraskan pola asuh antara sekolah dan rumah.
Kepala Sekolah SDN Daan Mogot 1, Fitriah Astuti, mengungkapkan dirinya memilih untuk menghidupkan kembali program-program positif yang sempat terhenti demi kemajuan kualitas pendidikan di sekolah yang ia pimpin.
“Saya melihat program sebelumnya yang tidak berjalan, saya hidupkan kembali. Yang belum ada, saya tambahkan,” ujarnya kepada bantenekspres.co.id, Kamis 7 Mei 2026.
Dikatakan Fitriah, kegiatan ini dilakukan secara bergilir untuk setiap jenjang kelas. Pada bulan Februari lalu, pertemuan difokuskan bagi wali murid kelas 6 sebagai bentuk persiapan mental menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA), sementara pada bulan April kembali diadakan bersama orang tua siswa kelas 1.
Menurut Fitriah, kunci keberhasilan pendidikan anak terletak pada dukungan penuh orang tua, bukan sekadar urusan finansial atau sumbangan dana. Ia menekankan kehadiran dan perhatian orang tua jauh lebih berharga daripada materi.
“Kita bukan soal dana, tapi memang dukungan orang tua banget di sini. Kalau enggak ada kerja sama orang tua, sekolah ini enggak akan jalan,” tegasnya.
Fitriah juga menyoroti fenomena menitipkan anak yang sering disalahartikan oleh sebagian orang tua. Ia mengingatkan sekolah bukanlah tempat untuk sekadar melempar tanggung jawab pengasuhan secara total kepada guru.
“Naruh anak ke sekolah bukan lempar aja. Taruh, tinggal, enggak tahu ini anak tingkah lakunya dan pembelajarannya bagaimana. Jangan sampai orang tua cuma ketemu pihak sekolah setahun sekali,” tambahnya.
Ia menambahkan, melalui pertemuan bulanan ini, pihak sekolah membuka ruang dialog yang jujur mengenai perkembangan siswa. Ia menilai, hal ini penting karena sering kali terdapat perbedaan perilaku anak yang signifikan antara saat berada di lingkungan sekolah dan di dalam rumah.
Fitriah mengumpamakan, terdapat salah satu anak yang terlihat pendiam di sekolah namun ternyata aktif di rumah, atau sebaliknya. Dengan komunikasi dua arah, guru dan orang tua diharapkan bisa saling berbagi informasi mengenai kekurangan dan kelebihan anak selama proses pembelajaran.
Sebagai sosok yang baru mengemban amanah sebagai kepala sekolah, Fitriah mengaku terus belajar dan membuka diri terhadap referensi program dari sekolah lain yang telah terbukti berhasil meningkatkan kenyamanan lingkungan belajar.
“Saya benar-benar harus lebih banyak belajar bagaimana menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman dan aman. Bagi saya, kalau ada program, itu harus benar-benar berjalan, bukan sekadar formalitas,” pungkasnya. (*)









