TIGARAKSA,BANTENEKSPRES.CO.ID – Iklim investasi di Kabupaten Tangerang menunjukkan tren positif yang sangat signifikan pada awal tahun 2026. Meski dibayangi ketidakpastian geopolitik global, daerah yang dijuluki Kota Seribu Industri ini berhasil mencatatkan nilai investasi sebesar Rp17 triliun hanya dalam kurun waktu satu triwulan pertama.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Tangerang, Hendar Herawan, mengatakan angka tersebut setara dengan 63% dari total target investasi tahun 2026 yang ditetapkan Provinsi Banten sebesar Rp25 triliun.
“Capaian ini menunjukkan pertumbuhan pesat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang berada di angka Rp8 triliun,” kata Hendar Herawan, Rabu 6 Mei 2026.
Ia menyatakan hingga saat ini nilai investasi di Kabupaten Tangerang masih ditopang oleh empat sektor utama, yaitu di sektor Industri, Perumahan, Perdagangan, dan sektor Jasa.
“Jadi kita belum meninggalkan industri-industri, perumahan, perdagangan, jasa itu menjadi andalan. Tapi sektor UMKM juga terus bergerak karena itu yang paling tahan terhadap krisis ekonomi,” ujarnya.
Menariknya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih menjadi motor penggerak utama, disusul oleh Penanaman Modal Asing (PMA) yang mayoritas berasal dari kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur.
Untuk wilayah Kabupaten Tangerang, investasi asing skala besar terkonsentrasi di kawasan pengembangan Pantai Indah Kapuk (PIK).
“Masih sekitar Asia. Antara Asia Tenggara dengan Asia Timur. Kalau Eropa, PMA lebih banyaknya di daerah proyek strategis nasional. Kalau kita ya investasi yang PMA besar kebanyakan di PIK,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Tangerang mulai mengarahkan kemudi pembangunan menuju sektor perdagangan dan jasa. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi titik jenuh pada sektor industri yang kerap membawa dampak polusi serta keterbatasan lahan.
“Kalau boleh saya mimpi, saya ingin Kabupaten Tangerang seperti Singapura. Mereka tidak punya sumber daya alam, tapi bisa mengendalikan ekonomi Asia Tenggara melalui perdagangan dan jasa. Kita harus bergerak ke sana karena lebih ramah lingkungan,” ujar Hendar.
Hendar menyatakan, kehadiran fasilitas skala internasional seperti AEON Mall, serta pusat konvensi ICE BSD yang merupakan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, menjadi bukti kuat bahwa Kabupaten Tangerang memiliki infrastruktur yang mumpuni untuk bertransformasi.
Meski mencatatkan angka yang fantastis, pemerintah daerah tetap waspada terhadap beberapa tantangan, di antaranya ketegangan global saat ini, seperti konflik Iran-Amerika yang mempengaruhi stabilitas harga energi (minyak) dan bahan baku industri seperti bahan baku plastik.
Depresiasi Rupiah yang menyentuh angka Rp17.500 per Dollar AS memberikan dampak ganda. Industri dengan bahan baku impor mulai merasakan tekanan, sementara industri berorientasi ekspor justru mendapatkan keuntungan.
“Sejauh ini tidak ada tren penurunan, yang ada justru tren naik. Kami pastikan pertumbuhan ini harus tetap seimbang antara pembangunan kelas atas dengan pemenuhan hak masyarakat biasa, seperti rumah subsidi, sekolah, dan rumah sakit yang terjangkau,” ucapnya. (*)










