Pelatihan Tata Boga Jadi Andalan Kota Tangsel Tingkatkan Kemandirian Perempuan Rentan

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan pada DP3AP2KB Kota Tangsel Mercy Apriyanti. Tri Budi/Bantenekspres.co.id

 

CIPUTAT,BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemkot Tangsel terus mendorong pemberdayaan perempuan melalui berbagai program pelatihan keterampilan. Salah satunya melalui pelatihan tata boga yang menyasar kelompok perempuan rentan agar memiliki kemampuan dan peluang usaha mandiri.

Bacaan Lainnya

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan pada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangsel Mercy Apriyanti mengatakan, program pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari usulan yang diajukan pihak kelurahan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Dalam pelaksanaannya, pelatihan mengusung konsep 3D, yakni dilatih, disertifikasi, dan diarahkan untuk mendapatkan peluang usaha.

Namun demikian, untuk tahap penyaluran kerja tidak sepenuhnya dapat dilakukan pemerintah daerah, mengingat pelatihan yang diberikan bersifat nonformal. “Kalau penyaluran kerja tidak bisa langsung, karena ini pelatihan nonformal. Tapi kita fokus membekali keterampilan dan sertifikasi,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Rabu, 6 Mei 2026.

Mercy menambahkan, adapun peserta pelatihan diprioritaskan bagi perempuan usia produktif, terutama perempuan kepala keluarga, penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), serta mereka yang terdampak kondisi sosial ekonomi tertentu.

Selain itu, program ini juga menyasar perempuan yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), termasuk penyandang disabilitas yang masih memungkinkan untuk mengikuti pelatihan.

Sejak awal tahun hingga saat ini, pelatihan yang telah dilaksanakan baru satu kali, yakni pelatihan pembuatan kue kering yang disertai sertifikasi. Pelatihan tersebut sempat direncanakan sebelum Lebaran agar hasilnya bisa langsung dimanfaatkan untuk peluang usaha musiman.

“Kemarin kita buat pelatihan kue kering dengan konsep kekinian, seperti butter cookies, supaya punya nilai jual lebih,” tambahnya.

Ke depan, program pelatihan akan terus dilanjutkan seiring masih banyaknya usulan dari kelurahan. “Rencananya akan digelar sekitar lima hingga tujuh pelatihan dengan fokus utama pada keterampilan tata boga yang dinilai paling diminati masyarakat,” jelasnyam

Seluruh pelatihan nantinya akan melibatkan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang memiliki standar kompetensi, sehingga peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan, tetapi juga sertifikasi resmi.

“Penyedia pelatihan harus dari lembaga yang punya standar, karena sertifikasi itu juga prosesnya tidak mudah,” tutupnya. (*)

 

Pos terkait