TANGERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Suasana di SDN Sukasari 7 Kota Tangerang tampak berbeda saat kegiatan senam bersama dilaksanakan. Kegiatan makan bersama ini menjadi agenda rutin yang diyakini membawa dampak besar bagi tumbuh kembang peserta didik di sekolah.
Kepala SDN Sukasari 7 Kota Tangerang, Euis Sondari, menekankan kegiatan ini bukan sekadar rutinitas mengisi perut, melainkan strategi sekolah dalam membentuk kedisiplinan. Menurutnya, melalui makan bersama, sekolah secara tidak langsung mengedukasi siswa mengenai pola makan yang teratur. Dengan jadwal yang konsisten, metabolisme dan kesiapan fisik siswa dalam menerima pelajaran menjadi lebih terjaga.
“Manfaat diadakannya makan bersama ini, jika dilihat dari sisi kesehatan dan gizi, yang utama adalah membuat pola makan siswa jadi teratur. Kami ingin mengajarkan kepada mereka, betapa pentingnya menghargai waktu makan agar tubuh tetap bugar sepanjang hari di sekolah,” ujarnya saat diwawancarai oleh bantenekspres.co.id, Kamis 23 April 2026.
Lebih lanjut, Euis menjelaskan, kegiatan ini menjadi kontrol efektif terhadap kualitas asupan nutrisi siswa. Sekolah mendorong orang tua untuk membekali anak-anak dengan makanan bergizi seimbang, lengkap dengan sayur dan buah. Ia menyebut, kebiasaan ini perlahan menggeser ketergantungan siswa terhadap jajanan sembarangan di luar sekolah yang belum tentu terjamin keamanannya.
Dikatakan Euis, sebelum dan sesudah makan, para siswa diwajibkan untuk mencuci tangan dengan sabun. Ia menyatakan, latihan kebersihan diri ini merupakan fondasi dasar dalam menjaga kesehatan lingkungan sekolah secara keseluruhan, dimulai dari kebiasaan individu masing-masing siswa.
“Selain fisik, kami juga menitikberatkan pada pembangunan karakter dan sosial. Salah satu yang paling terlihat adalah bagaimana siswa belajar menghargai makanan. Mereka menjadi lebih sadar akan proses, dan jerih payah di balik hidangan yang mereka santap, sehingga tidak ada lagi makanan yang terbuang percuma,” tambahnya.
Selain itu, kegiatan makan bersama ini juga bertransformasi menjadi kelas etika non-formal. Di sini, para guru mendampingi siswa untuk mempraktikkan sopan santun dan tata krama saat makan. Mulai dari berdoa sebelum makan hingga cara berkomunikasi yang santun saat berada di meja makan, semuanya diajarkan secara langsung melalui praktik nyata.
Menurut Euis, dari sisi kepedulian sosial pun turut tumbuh subur dalam suasana akrab tersebut. Kegiatan makan bersama dapat menciptakan jembatan komunikasi yang hangat antara guru dan murid. Ia menilai, siswa yang memiliki bekal lebih seringkali menawarkan kepada temannya, sehingga dapat menciptakan rasa kekeluargaan yang erat di lingkungan sekolah.
Euis juga optimis, pemenuhan nutrisi yang baik melalui program ini akan berdampak langsung pada prestasi akademik. Dengan kondisi perut yang kenyang, dan gizi yang terpenuhi, siswa tidak akan merasa lemas saat mengikuti jam pelajaran terakhir.
“Tujuan akhir kami adalah melihat siswa fokus dalam belajar. Jika nutrisi terpenuhi, mereka akan lebih bersemangat dan tidak cepat merasa lemas. Kami ingin SDN Sukasari 7 menjadi tempat di mana kecerdasan intelektual dan kesehatan fisik berjalan beriringan melalui kebiasaan sederhana namun bermakna ini,” tutupnya. (*)











