SEPATANTIMUR,BANTENEKSPRES.CO.ID – Di tengah arus modernisasi yang bergerak cepat, Desa Gempol Sari, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, tetap teguh menjaga denyut nadi warisan leluhurnya.
Ratusan tahun telah berlalu, namun satu tradisi agung tetap lestari yakni Ruwatan Bumi.
Bukan sekadar ritual tahunan, Ruwatan Bumi adalah manifestasi dari harmoni antara manusia, alam dan Sang Pencipta.
Tahun 2026 ini, masyarakat Desa Gempol Sari kembali bersiap untuk merayakan identitas kearifan lokal mereka dengan semangat kebersamaan yang lebih kuat.
Ruwatan Bumi bukanlah seremoni biasa. Ia adalah pengingat akan pentingnya bersyukur atas limpahan hasil bumi yang menjadi sumber kehidupan.
Bagi warga Gempol Sari, ritual ini membawa pesan moral dan spiritual yang mendalam.
Pertama, sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT terhadap alam bumi pertiwi sebagai sumber kehidupan.
Kedua, memohon berkah kepada Allah SWT agar Desa Gempol Sari dijauhkan dari mara bahaya dan penyakit.
Ketiga, mempertahankan identitas kearifan lokal dari pengaruh modernisasi.
Keempat, bentuk upaya merawat kelestarian budaya, lingkungan, dan menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam dan Sang Pencipta.
Kelima, memperingati dan menghormati jasa leluhur yang telah membuka wilayah sehingga adanya Desa Gempol Sari sampai saat ini.
Keenam, menjadi wadah gotong royong dan silaturahmi warga Desa Gempol Sari.
Tahun ini, acara mengangkat tema ‘Mensyukuri nikmat Tuhan Yang Maha Esa, melestarikan budaya dan memperkuat kebersamaan’, sebuah pengingat bahwa di pundak kitalah budaya ini harus terus dijaga agar tidak lekang oleh waktu.
Ketua Panitia Ruwatan Bumi Desa Gempol Sari 2026, Komarudin mengundang masyarakat Kampung Dato, RT 04 RW 03, dan seluruh warga Desa Gempol Sari untuk hadir dan menjadi bagian dari perayaan ini.
“Tanggalnya, Sabtu dan Minggu, 11-12 Juli 2026. Lokasi, Pandopo Dato, Kampung Gempol Sari Dato, RT 04 RW 03, Desa Gempol Sari, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, Banten,” jelasnya.
Adapun rangkaian kegiatan Ruwatan Bumi Desa Gempol Sari 2026:
1. Sabtu malam Minggu (Pukul 20.00 WIB – Selesai), pembacaan Manaqib, Doa Bersama, dan Tabligh Akbar yang menyatukan ulama, pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat.
2. Minggu pagi (07.00 WIB – Siang), kirab Budaya dan arak-arakan hasil bumi.
3. Minggu siang – sore, pentas seni yang memanjakan mata, mulai dari Tari Daerah, atraksi Palang Pintu, hingga seni bela diri Pencak Silat Beksi Si Uler Dato. Acara juga diisi dengan Santunan Sosial dan pembagian Hasil Bumi sebagai wujud berbagi kebahagiaan.
4. Minggu malam Senin (20.00 WIB – Selesai), puncak budaya dengan pementasan Kesenian Wayang Kulit yang memukau.
Menurut Komarudin, keberhasilan acara ini adalah cerminan gotong royong kita warga. Panitia membuka pintu bagi siapapun yang ingin berkontribusi, baik secara moral maupun materiil, untuk memastikan tradisi ini tetap eksis sebagai ikon budaya desa. (*)
Reporter: Zakky Adnan











