Geliat Pedagang Bunga di Tigaraksa, Bertahan di Tengah Perubahan Tren Belanja

Pembeli bunga di Timbul Jaya Florist sedang melihat bunga, Rabu 8 April 2026.

TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Deretan tanaman hias berjejer rapi di kawasan Bugel, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Warna-warni bunga mawar, bugenvil, hingga tanaman buah menjadi pemandangan yang menarik perhatian pengendara yang melintas.

Meski tren belanja kini bergeser ke ranah digital, para pedagang bunga di kawasan ini tetap bertahan, menjaga geliat usaha yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Bacaan Lainnya

Salah satu pedagang, Nafisa, pemilik Timbul Jaya Florist, mengaku telah berjualan bunga selama sekitar 15 tahun. Ia memulai usahanya dengan berpindah-pindah lokasi, mulai dari Cikande, Serang, hingga akhirnya menetap di kawasan Bugel, Tigaraksa.

“Banyak jenis yang dijual, ada bugenvil, sikas, brokoli, mawar, melati, juga bibit buah seperti jeruk, mangga, durian, sampai jambu,” ujar Nafisa saat ditemui di lapaknya, Rabu 8 April 2026.

Menurutnya, bunga mawar dan bugenvil menjadi salah satu tanaman yang cukup diminati pembeli. Selain itu, tanaman hias rumput seperti gajah mini, rumput Jepang, hingga palem juga cukup sering dicari. Namun, belakangan ini permintaan mulai bergeser ke tanaman yang lebih bermanfaat, seperti pohon buah.

“Yang dominan sekarang pepohonan buah, karena orang-orang di sini masih perkampungan. Jadi mereka lebih pilih yang bisa dipanen, ada manfaatnya,” jelasnya.

Pembeli tanaman di kawasan ini datang dari berbagai daerah, mulai dari Balaraja, Cikupa, hingga wilayah sekitar seperti Bugel dan Perum Karawaci. Bahkan, instansi pemerintahan juga kerap membeli tanaman untuk kebutuhan penghijauan kantor.

Di kawasan Bugel sendiri, terdapat sekitar 25 lapak pedagang bunga yang membentuk sentra tanaman hias di Tigaraksa. Meski jumlah pedagang cukup banyak, persaingan dinilai tetap sehat karena masing-masing menawarkan jenis tanaman yang beragam.

Namun, geliat usaha bunga tidak selalu stabil. Nafisa mengaku omzet penjualan sangat fluktuatif. Dalam sehari, ia bisa meraup pendapatan sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Namun saat sepi, penghasilannya bisa turun hingga Rp50 ribu.

“Sekarang lagi turun, enggak kayak dulu. Sekarang banyak yang belinya online,” katanya.

Selain perubahan tren belanja, faktor cuaca juga turut memengaruhi penjualan. Musim hujan menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang bunga karena pembeli cenderung enggan keluar rumah.

Meski demikian, momen tertentu tetap membawa berkah. Salah satunya saat tahun ajaran baru sekolah, ketika siswa diminta membawa tanaman untuk kegiatan penghijauan.

“Kalau anak sekolah tahun ajaran baru biasanya ramai. Mereka disuruh bawa bunga ke sekolah,” ujarnya. (*)

Reporter: Dani mukarom

Pos terkait