Cegah Tawuran Ramadan 2026, Kades Teluknaga Larang Perang Sarung

Cegah Tawuran Ramadan 2026, Kades Teluknaga Larang Perang Sarung
Foto Ilustrasi perang sarung. Istimewa

TELUKNAGA,BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemerintah Desa Teluknaga mengimbau para pemuda untuk tidak melakukan aksi perang sarung di wilayahnya selama bulan suci Ramadan. Imbauan tersebut disampaikan sebagai upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) agar tetap kondusif.

Dengan adanya imbauan tersebut, Pemerintah Desa Teluknaga berharap wilayahnya tetap aman, nyaman, dan kondusif sepanjang bulan Ramadan.

Bacaan Lainnya

Kepala Desa Teluknaga, Ajie Sutikna, menegaskan bahwa perang sarung bukan sekadar permainan, melainkan berpotensi menimbulkan tindak kriminal serta membahayakan diri sendiri dan orang lain.

“Perang sarung itu bukan tradisi yang harus dilestarikan. Justru kegiatan tersebut bisa memicu perkelahian, tawuran, bahkan tindak kriminal yang merugikan banyak pihak,” ujar Ajie Sutikna kepada Bantenekspres.co.id, Minggu 1 Maret 2026.

Ia menambahkan, Pemerintah Desa Teluknaga terus mengingatkan masyarakat, khususnya kalangan remaja, agar tidak terlibat dalam kegiatan yang dapat mengganggu ketertiban umum.

“Kami mengimbau kepada seluruh pemuda di Desa Teluknaga, jangan sampai melakukan perang sarung. Mari kita jaga bulan Ramadan ini dengan kegiatan yang lebih positif dan bermanfaat,” tegasnya.

Menurutnya, menjaga kondusifitas wilayah merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah desa dan masyarakat. Oleh karena itu, peran orangtua juga dinilai sangat penting dalam mengawasi aktivitas anak-anaknya, terutama pada malam hari.

“Kami berharap para orangtua bisa lebih peduli dan melakukan pengawasan terhadap anak-anaknya. Jangan sampai lengah, karena perang sarung sering terjadi di luar pengawasan keluarga,” katanya.

Ajie juga menegaskan, bahwa Pemerintah Desa Teluknaga tidak akan memberikan pembelaan atau bantuan apabila ada warga yang terbukti terlibat perang sarung hingga mengganggu Kamtibmas.

“Perlu kami sampaikan secara tegas, pemerintah desa tidak bisa membantu jika ada warga yang terlibat perang sarung dan berujung pada proses hukum. Ini harus menjadi perhatian bersama,” paparnya.

Ia mengajak, para pemuda untuk mengisi Ramadan dengan kegiatan keagamaan maupun aktivitas sosial yang lebih produktif, seperti tadarus Al-Qur’an, mengikuti kajian, atau kegiatan bakti sosial di lingkungan masing-masing.

“Ramadan adalah bulan penuh berkah. Gunakan waktu untuk hal-hal positif yang bisa menambah pahala dan membangun karakter diri. Jangan sampai ternodai oleh perbuatan yang merugikan,” tutupnya. (*)

Pos terkait