PAGEDANGAN,BANTENEKSPRES.CO.ID – Di balik kemajuan industri dan hiruk pikuk modernitas Kabupaten Tangerang, tersimpan sebuah narasi besar tentang keberanian.
Adalah Raden Aria Wangsakara, sosok ulama sekaligus pemimpin yang telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, yang meletakkan fondasi pertama tanah Tangerang melalui darah dan doa.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang Dra. Hj. Nurul Hayati, M.Si., menegaskan pengangkatan sejarah Raden Aria Wangsakara bukan sekadar seremoni, melainkan upaya penguatan literasi dan edukasi bagi generasi mendatang.
“Kami mempersembahkan arsip statis bernilai sejarah ini sebagai pengingat akan perjuangan tokoh pendiri Kabupaten Tangerang. Semoga ini bermanfaat bagi seluruh masyarakat,” ujar Nurul Hayati dikutip, Minggu, 1 Maret 2026.
Raden Aria Wangsakara bukanlah sosok sembarang. Beliau merupakan keturunan dari Prabu Geusan Ulun dari Kerajaan Sumedang Larang.
Tak hanya dikenal sebagai ulama yang disegani, beliau adalah panglima perang yang gigih melawan hegemoni VOC demi mempertahankan wilayah Tangerang.
Perjuangan beliau dimulai sejak tahun 1633. Pada tahun 1654, beliau mulai membangun tugu-tugu pembatas sebagai simbol kedaulatan Tangerang.
Semangat juang ini diteruskan kepada anak cucunya hingga banyak di antara mereka yang gugur di medan perang demi kemerdekaan tanah kelahiran.
Kompleks makam Raden Aria Wangsakara kini berdiri megah di Lengkong Kiai, Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Pagedangan.
Dikelola oleh Dinas Sosial Kabupaten Tangerang, makam ini memiliki keunikan arsitektur dan filosofi yang mendalam.
Kang Haris Yasin, ahli waris keturunan ke-9 menjelaskan, pemilihan lokasi makam di tempat yang tinggi bukanlah tanpa alasan.
“Dalam tradisi keturunan Keraton Sumedang, seorang pimpinan selalu dimakamkan di tempat yang tinggi. Karena Tangerang bukan daerah perbukitan, maka lokasi ini dibangun sedemikian rupa sebagai simbol penghormatan atas kepemimpinan beliau,” jelas Kang Haris.
Kompleks ini memiliki pendopo dengan empat pintu utama (Utara, Selatan, Timur, dan Barat) yang melambangkan keterbukaan bagi para peziarah yang datang dari berbagai penjuru.
Raden Aria Wangsakara dikenal memiliki banyak identitas atau gelar, yang mencerminkan kecerdikan dan strategi perjuangannya.
Beliau juga dikenal sebagai Wiraraja II (dua) atau Ki Lenyep.
Total ada tujuh hingga delapan nama alias yang melekat pada sosoknya.
Pengabdian panjang ini akhirnya mendapat pengakuan tertinggi dari Pemerintah Republik Indonesia.
Pada 10 November 2021, Raden Aria Wangsakara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Pemerintah Kabupaten Tangerang juga telah membangun pendopo/aula khusus di kompleks makam untuk menyimpan arsip sejarah.
Di sana, pengunjung dapat melihat dokumentasi penting, termasuk foto bersejarah saat ahli waris menerima gelar Pahlawan Nasional di Istana Negara.
Selain arsip di pendopo, beberapa peninggalan asli Raden Aria Wangsakara masih dirawat dengan sangat baik di kediaman ahli waris dan museum keluarga sebagai warisan yang sakral.
Raden Aria Wangsakara adalah simbol keteguhan iman dan kebijaksanaan.
Beliau bukan hanya pendiri secara administratif, tetapi penjaga moral rakyat dari penindasan kolonial.
Bagi masyarakat Tangerang, mengenal sosok beliau adalah cara terbaik untuk mencintai tanah ini.
Bahwa setiap jengkal tanah di Kabupaten Tangerang adalah buah dari keberanian seorang ulama yang tak gentar melawan ketidakadilan. (*)











