Islam dan Tionghoa: Jejak Panjang yang Terjalin Sejak Dulu

Ilustrasi gambar etnis Tionghoa dan Muslim (Sumber Foto: Istimewa)

BANTENEKSPRES.CO.ID -Hubungan antara Islam dan masyarakat Tionghoa sering dipahami secara terpisah, seolah keduanya baru bertemu di masa modern. Padahal, jika ditelusuri melalui kajian sejarah, relasi Islam dan Tionghoa telah terjalin sejak berabad-abad lalu dan berkembang melalui proses damai yang panjang.

Sejarawan Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara menjelaskan bahwa Islam di Asia Tenggara tumbuh melalui jalur perdagangan, pendidikan, dan interaksi sosial. Proses ini membuka ruang perjumpaan dengan berbagai kelompok etnis, termasuk komunitas Tionghoa yang sejak awal aktif dalam jaringan dagang internasional.

Bacaan Lainnya

Jalur Dagang sebagai Pintu Masuk

Sejak abad ke-7 Masehi, jalur perdagangan laut yang menghubungkan Arab, Persia, India, dan Tiongkok telah menjadi urat nadi pertemuan berbagai peradaban. Catatan sejarah Tiongkok pada masa Dinasti Tang dan Song menyebut keberadaan komunitas Muslim di sejumlah kota pelabuhan.

Fakta ini sejalan dengan kajian Anthony Reid dalam bukunya Southeast Asia in the Age of Commerce yang menggambarkan pelabuhan-pelabuhan Nusantara sebagai ruang kosmopolitan, tempat pedagang dari berbagai latar belakang budaya dan agama hidup berdampingan.

Dalam konteks inilah Islam mulai dikenal oleh sebagian masyarakat Tionghoa. Prosesnya berlangsung secara perlahan melalui hubungan dagang, interaksi sosial, dan perkawinan.

Islam hadir bukan sebagai kekuatan yang memaksa, melainkan sebagai ajaran yang mampu menyesuaikan diri dengan budaya setempat.

Cheng Ho dan Diplomasi Islam yang Damai

Hubungan Islam dan Tionghoa semakin nyata ketika membicarakan sosok Cheng Ho, seorang laksamana Muslim dari Dinasti Ming yang memimpin ekspedisi maritim ke Asia Tenggara pada abad ke-15.

Peran Cheng Ho dalam sejarah Asia Tenggara dibahas secara mendalam oleh Slamet Muljana dalam bukunya Cheng Ho: Penyebar Islam dari Tiongkok ke Nusantara.

Dalam buku tersebut, Slamet Muljana menjelaskan bahwa pelayaran Cheng Ho tidak bertujuan melakukan penaklukan, melainkan membangun hubungan diplomatik dan perdagangan.

Ekspedisi ini juga memperkuat jaringan komunitas Muslim di wilayah yang disinggahi, termasuk Nusantara, dengan pendekatan damai dan menghormati tradisi lokal.

Tionghoa Muslim dan Dakwah di Nusantara

Peran komunitas Tionghoa Muslim dalam sejarah Islam di Nusantara juga diulas oleh Slamet Muljana dalam bukunya Runtuhnya Kerajaan Hindu danJawa. Ia menunjukkan bahwa proses islamisasi di Jawa tidak terlepas dari keterlibatan kelompok Tionghoa Muslim yang telah berasimilasi dengan masyarakat setempat.

Dalam proses tersebut, dakwah Islam berkembang melalui pendekatan budaya. Kisah Wali Songo sering dipahami sebagai contoh bagaimana Islam disebarkan melalui seni, simbol, dan tradisi lokal.

Pendekatan ini membuat Islam dapat diterima tanpa harus menghapus identitas budaya yang telah ada sebelumnya.

Akulturasi yang Masih Terlihat Hingga Kini

Jejak hubungan Islam dan Tionghoa masih dapat dijumpai hingga sekarang. Arsitektur masjid dengan sentuhan ornamen Tionghoa, tradisi perayaan yang memadukan nilai keagamaan dan budaya, hingga kesenian tradisional menjadi bukti akulturasi yang berlangsung dalam waktu panjang.

Hal ini sejalan dengan pandangan Denys Lombard dalam karya monumentalnya Nusa Jawa yakni Silang Budaya. Lombard melihat Nusantara sebagai ruang pertemuan berbagai peradaban besar dunia, termasuk Islam dan Tionghoa, yang saling memengaruhi dan membentuk identitas budaya baru.

Di tengah keberagaman Indonesia hari ini, membaca kembali sejarah ini menjadi penting. Bukan untuk romantisasi masa lalu, melainkan untuk memahami bahwa hidup berdampingan dalam perbedaan pernah menjadi pengalaman nyata, bukan sekadar wacana.(*)

Pos terkait