Sayembara Desain Revitalisasi Masjid Al Ittihad, Menghidupkan Ruh Kota Tangerang

Sayembara Desain Revitalisasi Masjid Al Ittihad, Menghidupkan Ruh Kota Tangerang
Kepala Dinas Permukiman dan Pertanahan Kota Tangerang, Decky Priambodo Koesrindartono, MSc, (paling kanan) saat membuka sayembara desain revitalisasi bersama DKM Masjid Agung Al-Itihad, beberapa waktu lalu. Foto Ahmad Syihabudin/Bantenekspres.co.id

TANGERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemerintah Kota Tangerang menggelar Sayembara Gagasan Desain Revitalisasi Masjid Agung Al Ittihad, sebuah ajang untuk menghadirkan gagasan arsitektur terbaik demi menghidupkan kembali salah satu ikon spiritual dan sejarah Kota Tangerang.

Masjid Agung Al Ittihad bukan sekadar rumah ibadah. Letaknya yang strategis di jantung Kota Tua Tangerang berdampingan dengan Sungai Cisadane, Pasar Lama, Stasiun Kereta, dan Klenteng Boen Tek Bio menjadikannya simbol akulturasi budaya serta titik awal lahirnya kota ini.

Bacaan Lainnya

Kondisi eksisting masjid dan lingkungannya kini dinilai memerlukan langkah strategis untuk menata kembali peran dan fungsinya, baik secara fisik maupun sosial dan spiritual.

Permukiman dan Pertanahan Kota Tangerang, Decky Priambodo Koesrindartono, MSc,
Kondisi saat ini Masjid Agung Al-Itihad

Melalui sayembara ini, Pemkot Tangerang berharap masjid dapat kembali hidup sebagai pusat ibadah, kajian, serta penggerak peradaban Islam di kota tersebut.

Dengan mengusung tema “Menghidupkan Ruh Kota, Menata Masjid, Meneguhkan Akhlakul Karimah,”

Kepala Dinas Perumahan, Permukiman dan Pertanahan Kota Tangerang, Decky Priambodo Koesrindartono, MSc, menegaskan bahwa tema tersebut dipilih melalui proses panjang yang mempertimbangkan nilai spiritual, konteks sejarah, serta arah pembangunan Kota Tangerang.

“Tema ini bukan sekadar slogan, tetapi fondasi yang mengikat seluruh ide dan rancangan peserta agar mampu menampilkan keseimbangan antara tradisi keislaman, identitas lokal, dan visi masa depan kota,” ujar Decky.

Animo masyarakat terhadap sayembara ini pun luar biasa. Dalam waktu tiga hari pendaftaran, 27–30 Oktober 2025, tercatat sebanyak 101 peserta terjaring dari kategori umum dan mahasiswa. Seluruh karya akan diseleksi hingga batas akhir penyerahan pada 24 November 2025.

Decky menambahkan, Pemkot Tangerang akan terus memantau dan mengapresiasi setiap karya yang masuk.

“Kami berharap sayembara ini menjadi ruang kolaborasi antara arsitek, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat dalam menghadirkan gagasan yang bukan hanya indah secara desain, tetapi juga kuat dalam nilai dan makna,” tutupnya. (Adv)

Pos terkait