SERPONG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Sejak beberapa hari ini wilayah Kota Tangsel diguyur hujan. Meskipun hujan namun, terkadang masih terjadi cuaca panas terik.
Saat peralihan musim tersebut, ada beberapa hal yang harus diwaspadai yakni adanya ancaman gangguan kesehatan. Pasalnya, ada beberapa penyakit yang dapat muncul karena peralihan musim tersebut.
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) pada Dinas Kesehatan Kota Tangsel Aprilia Krisliana mengatakan, saat musim hujan tubuh akan lebih mudah terserang penyakit, sebagai akibat adanya perubahan suhu pada lingkungan.
“Ketika musim hujan jenis mikroba akan lebih mudah berkembang biak dan makin mudah masuk ke tubuh manusia. Daya tahan tubuh yang tak prima akan semakin membuat bakteri dan virus berkembang hingga menyebabkan penyakit,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Selasa, 2 September 2025.
Perempuan yang biasa disapa April tersebut menambahkan, tubuh harus waspada terhadap serangan penyakit yang datang ketika musim hujan. Ada 4 penyakit yang sering terjadi dan wajib diwaspadai saat peralihan musim dan terutama saat musim hujan.
Pertama adalah demam berdarah dengue (DBD). DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus atau infeksi virus akut yang disebabkan virus dengue.
“Gejala DBD antara lain hari 1-3 fase demam mendadak tinggi disertai berbagai gejala yang muncul, hari 4-5 merupakan fase kritis demam turun, hari 6-7 fase penyembuhan demam kembali tinggi sebagai reaksi dari kesembuhan,” tambahnya.
Menurutnya, apabila mengalami gejala tersebut segera periksakan segera ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Jika mengalami gejala syok yang di tandai dengan kaki, tangan dingin kulit lembab dan tampak gelisah agar segera bawa ke fasilitas pelayanan Kesehatan untuk mendapatkan penanganan.
DBD merupakan kasus penyakit yang dapat dicegah serta dikendalikan, Kota Tangsel merupakan daerah endemis DBD. Untuk upaya pengendalian program DBD di Kota Tangsel yaitu meliputi pencegahan dan pemutusan matarantai penularan, untuk pencegahan Dinkes sudah melakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3 M plus dengan program Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik dan untuk pemutusan mata rantai penularan.
“Caranya dengan melakukan penyemprotan fogging untuk wilayah yang terjadi penularan kasus DBD berdasarkan Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang dilakukan oleh petugas puskesmas di bantu dengan koordinator jumantik di tiap-tiap wilayah,” jelasnya.
Pihaknya juga mengajak seluruh masyarakat untuk antisipasi atau mengendalikan DBD dengan melakukan upaya PSN dengan 3 M plus diantaranya menguras, menutup dan mendaur ulang, serta menghindari gigitan nyamuk dan partisipasi masyarakat dalam Gerakan 1 rumah 1 jumantik (G1R1J) dirumahnya masing-masing minimal 1 minggu sekali.
Penyakit kedua adalah Leptospirosis. Kasus yang disebabkan oleh tikus jika terjadi banjir yaitu penyakit Leptospirosis, Kota Tangeel belum pernah ada laporan penyakit tersebut. Tapi, dalam upaya antisipasi terjadinya penyakit leptospirosis perlu langkah-langkah pencegahan terjadinya penyakit tersebut.
“Menghindari air yang sudah terkontaminasi dan pastikan kebersihannya sebelum mengkonsumsinya. Memakai sepatu dari karet dengan ukuran tinggi dan sarung tangan karet bagi kelompok kerja yang berisiko tinggi tertular leptospirosis. Membersihkan dengan desinfektan bagian-bagian rumah, kantor atau gedung,” tuturnya.
Penyakit ketiga yang wajib diwaspadai adalah infeksi saluran pernapasan akus (Ispa). Ispa adalah infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bagian bawah. Infeksi tersebut disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri.
Selain bakteri dan virus ISPA juga dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu kondisi lingkungan (polutan udara seperti asap rokok dan asap bahan bakar memasak, kepadatan anggota keluarga, kondisi ventilasi rumah kelembaban, kebersihan, musim dan suhu).
“Penyakit ISPA ini paling banyak di temukan pada anak dibawah 5 tahun karena pada kelompok usia ini adalah kelompok yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih rentan terhadap berbagai penyakit,” ungkapnya.
Keempat adalah Diare. Diare adalah penyakit yang di tandai dengan terjadinya perubahan bentuk dan konsentrasi tinja yang melembek sampai dengan cair dengan frekuensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam.
Penyakit diare merupakan penyakit nomor dua yang menyebabkan angka kesakitan dan angka kematian pada anak, khususnya anak yang berusia dibawah 5 tahun.
Penyebab diare dapat disebabkan oleh berbagai infeksi, selain penyebab lain seperti malabsorbsi. Cara penularan diare melalui cara faecal-oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar kuman atau kontak langsung tangan penderita atau tidak langsung melalui lalat.
“Diare menyebar dan menginfeksi anak melalui empat faktor, yaitu food, fly, feces dan finger,” tuturnya
Pencegahan diare dapat dilakukan dengan pemberian makanan yang hygiene, menyediakan air minum yang bersih, menjaga kebersihan perorangan, membiasakan mencuci tangan sebelum makan. Buang air besar pada tempatnya, menyediakan tempat pembuangan sampah yang memadai. Memberantas lalat dan menjaga kebersihan lingkungan.
Dinas Kesehatan Tangsel mengimbau masyarakat untuk mencegah penyakit-penyakit tesebut dengan melakukan upaya seperti mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi. Rajin minum suplemen dan vitamin, olahraga dengan rutin, sedia payung dan jas hujan saat bepergian.
“Termasuk konsumsi air yang cukup, tidur yang cukup, gunakan masker bagi masyarakat dalam kondisi sedang batuk dan flu dan selalu menjaga kebersihan tubuh,” tutupnya. (*)
Reporter: Tri Budi










