TANGERANG,BANTENEKPRES.CO.ID – Indonesia di usia 80 tahun saat ini menurut praktisi seni dan pendidikan kota Tangerang Inggrit Astrid sudah menua. Inggrit menyebut ada banyak komentar tentang dunia pendidikan. Dan dikatakan dia Indonesia masih suram.
Menurutnya, ada yang mengatakan pendidikan tumbuh menjadi lebih baik, ada juga yang katakan jalan ditempat. Lebih ekstrim dituding pendidikan di Indonesia mati suri alias suram tidak bercahaya.
“The Black Shine of Education atau Cahaya Hitam Pendidikan,” kata Inggrit Astrid, Minggu 17 Agustus 2025 malam WIB.
Lanjut dia, seharusnya di usia semakin tua saat ini, pendidikan di Indonesia harus mampu melampaui kemajuan negara lain, terlebih negara tetangga. Indonesian malah jauh mundur kebelakang baik secara kwalitas, SDM, maupun sarana prasarana.
“Kualitas, sumber daya manusia (SDM) dan sarana prasarana menjadi tolak ukur kemajuan pendidikan kita. Ketiga faktor tersebut sampai saat ini masih tidak menjadi prioritas utama Pemerintah,” ungkapnya.
Maka itu, Pendidikan di Indonesia masih menyimpan sejumlah tantangan besar yang harus dibenahi secara fundamental, bukan sekedar ceremony. Diantara faktor yang menjadi tantangan itu antara lain
1. Akses Pendidikan
Di Indonesia sejak kepemimpinan Presiden ke-5 Republik Indonesia UU Sistem Pendidikan 20 Tahun 2003, wajib belajar 12 tahun. Pasal 28C ayat (1) UUD 1945 setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
2. Perpres dan Permen
Bahkan lebih dari itu pemerintah menyediakan alokasi Bantuan Operasional Siswa (BOS), Beasiswa, dan bantuan lainnya yang terkait untuk kemajuan sekolah, tapi sampai saat ini program tersebut belum mampu mendongkrak kualitas pendidikan.
Ini menjadi tanggung jawab pemangku kebijakan apakah program ini jalan di relnya atau berjalan diluar rel yang semestinya. wajib di evaluasi kinerja para penerima kebijakan pemerintah itu secara tegas dan terukur, bukan sekedar lipstik (hiasan).
3. Dekadensi Moral dan Mutu
Adalah masalah pokok yang dihadapi dunia pendidikan. Dimana sekarang ini para peserta didik mengalami proses kemerosotan moral dan akhlak dalam masyarakat. Kurangnya etika, rasa hormat baik kepada orang tua, guru, dan lingkungan masyarakat. Hal ini sangat memprihatinkan dan bertentangan dengan nilai-nilai tradisional dan agama.
Pemerintah harus mampu memfilter budaya asing dan barat yang sekarang ini sudah ada dalam genggaman (Handphone)
Mutu pembelajaran cenderung berorientasi pada pencapaian akademik dan ujian. Siswa sering diarahkan untuk menguasai teori dan hafalan, padahal tantangan abad 21 menuntut kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, serta melek teknologi.
Kurikulum Merdeka yang dicanangkan pemerintah memang memberi harapan baru dengan memberikan ruang kebebasan belajar, tetapi implementasinya belum berjalan seragam di semua daerah.
4. Peran Guru
Guru adalah lokomotif dan ujung tombak utama pendidikan, Guru memiliki peran sebagai pendidik dan pembimbing dalam proses kegiatan belajar mengajar baik secara akademik maupun non-akademik.
Guru memiliki peran istimewa sebagai pemberi ilmu pengetahuan, motivator, pembentuk karakter, juga sebagai pengawas dan penilai.
5. Digitalisasi Pendidikan
Digitalisasi membawa perubahan besar. Pandemi yang lalu mempercepat penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Akan tetapi, kesiapan tiap sekolah dan guru berbeda-beda.
6. Refleksi Guru
Sebagai seorang guru, Inggrit mengaku merasakan langsung bagaimana semangat belajar anak-anak sebenarnya sangat besar, tetapi sering terhambat oleh keterbatasan sarana, metode, dan dukungan lingkungan.
“Saya juga melihat bahwa murid-murid akan lebih bersemangat ketika pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata, bukan sekadar hafalan. Karena itu, saya percaya bahwa peran guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi, membimbing, dan menanamkan keterampilan hidup agar generasi muda siap menghadapi masa depan,” tutup Inggrit. (*)
Reporter: Ahmad Syihabudin









