Tagline Nyentrik “Ulah Poho Sholat” Hantarkan Azmi Maulidy dari Santri ke Kursi DPRD

Tagline Nyentrik “Ulah Poho Sholat” Hantarkan Azmi Maulidy dari Santri ke Kursi DPRD
Anggota DPRD Kabupaten Serang dari Fraksi PDI Perjuangan M. Azmi Maulidy, Foto PDIPerjuangan/Bantenekspres.co.id

SERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Berawal dari kehidupan pesantren, H. M. Azmi Maulidy, S.Kom., M.Pd., kini sukses menapaki dunia politik hingga menjadi anggota DPRD Kabupaten Serang dari Fraksi PDI Perjuangan. Perjalanan tersebut membawa cerita menarik, termasuk tagline kampanyenya yang nyentrik, yakni “Ulah Poho Sholat” atau jangan lupa salat.

Pria yang akrab disapa Gus Azmi ini menggunakan tagline tersebut saat Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024. Bukan sekadar jargon politik untuk menarik perhatian pemilih, kalimat itu menjadi bagian dari dakwah sekaligus pengingat masyarakat agar tidak melupakan kewajiban beribadah di tengah kesibukan.

Bacaan Lainnya

“Kalaupun saya kalah, saya sudah dapat pahalanya karena mengingatkan orang untuk salat. Saya bikin banner juga tidak rugi-rugi amat karena ada nilai kebatinan, yakni mengingatkan orang. Jadi, kalau kalah pun tidak masalah. Saya sudah berdakwah,” ujarnya, Minggu 8 November 2026.

Bahkan hingga kini, Gus Azmi masih menggunakan tagline tersebut sebagai identitas dirinya yang berlatar belakang santri.

Lahir pada 1991, Azmi berasal dari Kampung Masigit, Desa Ciomas, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang. Ia tumbuh dalam lingkungan pendidikan pesantren. Pendidikan formalnya dimulai di SDN Ciomas 1, kemudian berlanjut ke MTs Al-Halimi dan MA Bismillah.

Kecintaannya terhadap dunia pendidikan membawanya melanjutkan studi ke Universitas Pakuan (UNPAK) Bogor di bidang komputer hingga meraih gelar sarjana. Ia kemudian meneruskan pendidikan magister di Jakarta hingga memperoleh gelar Magister Pendidikan.

Sebelum terjun ke politik, Azmi memiliki pengalaman panjang di dunia pendidikan. Ia pernah menjadi guru SMP, pengajar teknologi di SMK, hingga menjabat kepala sekolah SMP Terpadu Bismillah Padarincang. Di sela aktivitasnya, ia juga menjalankan usaha kecil-kecilan.

Pengalaman tersebut menjadi bekal baginya dalam memahami persoalan masyarakat, terutama di bidang pendidikan dan pemberdayaan sumber daya manusia.

Namun, Azmi mengaku awalnya tidak banyak memahami dunia politik maupun tugas dan fungsi lembaga legislatif. Keputusannya terjun ke politik justru berawal dari nasihat seorang guru yang mendorongnya agar bisa memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.

“Dulu santri saya sekitar 2.000 orang. Berarti kiprah saya hanya untuk 2.000 orang. Guru saya menyampaikan, kalau ingin berkiprah lebih luas di masyarakat, cobalah masuk politik. Akhirnya saya mencoba dan ternyata benar. Hari ini, sebagai santri, saya ingin memberikan manfaat lebih banyak daripada sebelumnya,” ungkapnya.

Pilihan politiknya kemudian jatuh kepada PDI Perjuangan. Menurutnya, visi dan misi partai tersebut memiliki keselarasan dengan pandangan serta semangat perjuangannya sebagai seorang santri.

Baginya, politik merupakan salah satu jalan pengabdian untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat yang lebih luas, mulai dari kalangan pesantren, kiai, ustaz, petani, nelayan hingga buruh.

Ia ingin membuktikan bahwa santri tidak hanya berperan dalam urusan keagamaan, tetapi juga mampu hadir di tengah masyarakat dan terlibat dalam pembangunan serta pengambilan kebijakan publik.

“Santri itu bukan hanya soal agama, tetapi bagaimana masuk ke tengah masyarakat, melayani nelayan, petani, dan buruh. Walaupun mungkin kata orang PDI bukan menggambarkan sebagai santri, saya tepis itu. Sebab, santri bukan hanya berkiprah tentang agama, tetapi bagaimana bisa masuk ke masyarakat dan bermanfaat bagi banyak orang. Itu juga pelajaran di pesantren,” tuturnya.

Ke depan, Gus Azmi memiliki cita-cita menjadikan Kabupaten Serang sebagai kota pesantren sekaligus kota digital. Dua gagasan tersebut menjadi bagian dari visi yang ingin diperjuangkannya melalui lembaga legislatif.

Di bidang keagamaan, ia berharap keberadaan guru ngaji, kiai, ustaz, dan pondok pesantren mendapatkan perhatian serta dukungan lebih besar dari pemerintah daerah.

Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Karena itu, dukungan pemerintah perlu diwujudkan melalui kebijakan yang memberikan manfaat nyata bagi lembaga pendidikan keagamaan.

Selain itu, Azmi juga menaruh perhatian terhadap perkembangan teknologi. Ia ingin mendorong Kabupaten Serang menjadi daerah yang lebih maju melalui penerapan sistem digital, khususnya dalam pelayanan pemerintahan.

“Saya ingin mendorong Kabupaten Serang menjadi daerah yang lebih maju dalam penerapan sistem digital. Pelayanan pemerintahan harus memanfaatkan teknologi agar masyarakat lebih mudah mengakses berbagai layanan publik,” pungkasnya. (*)

Pos terkait