Cegah DBD, Pemdes Ciakar Berikan Alat Fogging untuk Warga Cungkagilih

Cegah DBD, Pemdes Ciakar Berikan Alat Fogging untuk Warga Cungkagilih
FOGGING: Pemdes Ciakar memberikan alat fogging untuk warga Kampung cungkagalih RT 05 RW 01 sebagai bentuk pencegahan adanya DBD. Foto Desa Ciakar for Bantenekspres.co.id

PANONGAN, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemerintah Desa (Pemdes) Ciakar, Kecamatan Panongan, terus berupaya meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Salah satu langkah yang dilakukan yakni memberikan bantuan alat fogging kepada warga Kampung Cungkagilih RT 05 RW 01, Desa Ciakar, sebagai upaya pencegahan berkembangnya nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD.

Bantuan alat fogging tersebut langsung dimanfaatkan warga untuk melakukan pengasapan di lingkungan permukiman. Bahkan, penyemprotan dilakukan secara menyeluruh ke rumah-rumah warga guna menekan populasi nyamuk dewasa yang berpotensi menularkan virus dengue.

Bacaan Lainnya

Kepala Desa Ciakar Muhamad Nurjayludin mengatakan, pemberian alat fogging tersebut merupakan bentuk kepedulian pemerintah desa terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat. Menurutnya, upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini agar tidak sampai terjadi kasus DBD di lingkungan warga.

“Kami dari Pemerintah Desa Ciakar berupaya melakukan langkah pencegahan agar masyarakat terhindar dari penyakit DBD. Salah satunya dengan memberikan alat fogging kepada warga Kampung Cungkagilih RT 05 RW 01 agar bisa dimanfaatkan untuk melakukan pengasapan di lingkungan permukiman,” ujarnya kepada Bantenekspres.co.id, Minggu 8 November 2026.

Nurjayludin menjelaskan, pencegahan DBD tidak bisa hanya mengandalkan fogging. Diperlukan kesadaran dan keterlibatan seluruh masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan memperhatikan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk.

“Fogging ini merupakan salah satu ikhtiar untuk mengurangi keberadaan nyamuk dewasa. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana masyarakat bisa menjaga kebersihan lingkungan masing-masing. Jangan sampai setelah dilakukan fogging, lingkungan kembali kotor dan menjadi tempat nyamuk berkembang biak,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan sampah, kaleng bekas, botol plastik, ember maupun barang-barang yang sudah tidak terpakai menumpuk di sekitar rumah. Sebab, barang-barang tersebut dapat menampung air hujan dan menjadi tempat nyamuk Aedes aegypti meletakkan telurnya.

“Saya meminta kepada seluruh warga agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Sampah harus dibuang pada tempatnya, kemudian barang-barang bekas yang sudah tidak digunakan sebaiknya dikubur, didaur ulang atau dibuang dengan benar. Jangan sampai ada wadah yang bisa menampung air dan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” tegasnya.

Menurutnya, kebiasaan menjaga kebersihan harus dimulai dari lingkungan rumah sendiri. Warga diharapkan rutin memeriksa bak mandi, tempat penampungan air, saluran air hingga halaman rumah untuk memastikan tidak ada genangan yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

“Jangan menunggu ada warga yang terkena DBD baru kita bergerak. Pencegahan harus dilakukan bersama-sama dan menjadi kebiasaan sehari-hari. Kalau lingkungan bersih, tidak ada genangan air dan tidak ada barang bekas yang menumpuk, maka potensi perkembangbiakan nyamuk bisa kita tekan,” ungkapnya.

Ia berharap, melalui bantuan alat fogging dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan, wilayah Desa Ciakar dapat terhindar dari penyebaran penyakit DBD.

“Kesehatan masyarakat merupakan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah desa tentu akan terus berupaya memberikan perhatian terhadap kesehatan warga. Saya berharap masyarakat bisa saling mengingatkan dan bergotong royong menjaga lingkungan agar tetap bersih, sehat dan nyaman. Jangan hanya mengandalkan pemerintah desa, tetapi seluruh warga harus ikut berperan dalam mencegah DBD,” pungkasnya. (*)

Pos terkait