TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Tangerang tidak hanya menjadi tempat masyarakat memperoleh keterampilan, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian ekonomi dan kesempatan kerja hingga ke luar negeri. Hal itu terlihat dari keberhasilan sejumlah alumni pelatihan BLK yang mampu mengembangkan kompetensinya, bahkan hingga bekerja di Jepang.
Capaian tersebut menjadi salah satu sorotan dalam kegiatan Gebyar BLK Kota Tangerang 2026 yang digelar di Tangerang Convention Center (TCC), Rabu malam (4/11). Kegiatan yang memasuki tahun ketiga ini menjadi ajang apresiasi sekaligus pembuktian hasil pelatihan melalui berbagai perlombaan keterampilan dan pemberian penghargaan kepada alumni terbaik.
Wali Kota Tangerang Sachrudin mengatakan, keberhasilan alumni yang mampu bekerja di Jepang menjadi kebanggaan tersendiri bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang. Terlebih, mereka dapat memanfaatkan keterampilan bahasa yang diperoleh melalui pelatihan BLK hingga mampu melamar pekerjaan secara mandiri.
“Tadi kita lihat juga ada yang sudah sampai ke Jepang, ini melalui BLK Kota Tangerang. Dia belajar bahasa Jepang, nah sekarang sudah bisa bekerja, dia melamar secara mandiri,” ujar Sachrudin.
Menurutnya, BLK harus mampu menghasilkan masyarakat yang tidak hanya terampil, tetapi juga produktif, mandiri, dan memiliki daya saing. Sebab, keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan dapat menjadi modal untuk membuka peluang usaha maupun memasuki dunia kerja.
Sachrudin mencontohkan, Gebyar BLK tahun ini menghadirkan kreativitas masyarakat melalui bidang tata boga dengan tema Kreasi Rasa Nusantara serta tata busana bertema Romansa. Kedua bidang tersebut menunjukkan bahwa kemampuan teknis perlu didukung kreativitas dan inovasi agar menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi.
“Keterampilan memasak dapat tumbuh menjadi usaha kuliner, sementara kemampuan menjahit dan merancang busana dapat membuka peluang di industri kreatif. Artinya, peluang ekonomi bisa dimulai dari keterampilan yang ditekuni secara serius dan dikembangkan secara berkelanjutan,” jelasnya.
Ia berharap, kualitas pelatihan BLK ke depan semakin relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Kolaborasi dengan berbagai pihak serta pendampingan terhadap alumni juga perlu diperkuat agar keterampilan yang diperoleh benar-benar berujung pada penyerapan tenaga kerja maupun penciptaan lapangan pekerjaan.
“Keberhasilan BLK tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang dilatih atau sertifikat yang diterbitkan, tetapi dari berapa banyak alumni yang terserap bekerja, mampu berwirausaha, dan meningkatkan kesejahteraan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Tangerang Ujang Hendra Gunawan mengatakan, Gebyar BLK merupakan bentuk apresiasi terhadap alumni yang telah mengikuti berbagai program pelatihan. Tahun ini, penghargaan diberikan melalui sejumlah kategori yang melibatkan peserta dari kalangan ibu rumah tangga hingga generasi Z.
Beberapa bidang yang ditampilkan di antaranya menjahit, tata boga, content creator, dan pelatihan bahasa. Para alumni berkesempatan menunjukkan kemampuan terbaik sekaligus berkompetisi memperebutkan juara di masing-masing kategori.
“Ini adalah sebagai jawaban dari beberapa orang yang mempertanyakan apakah mengikuti pelatihan di BLK itu ada manfaatnya. Bisa saya sampaikan bahwasanya tidak semua yang mengikuti pelatihan BLK itu harus menjadi entrepreneur atau pengusaha, tetapi mereka juga bisa bekerja maupun menyalurkan hobinya,” ungkap Ujang.
Ia mencontohkan, peserta pelatihan menjahit yang sebelumnya harus membeli pakaian kini dapat membuatnya sendiri. Meski tidak menghasilkan pendapatan secara langsung, kemampuan tersebut tetap memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga karena dapat menghemat pengeluaran.
Ujang menyebutkan, jumlah lulusan pelatihan BLK setiap tahunnya cukup besar. Untuk pelatihan berbasis kewirausahaan, jumlahnya sekitar 900 orang, sedangkan pelatihan berbasis kompetensi mencapai sekitar 500 orang. Bahkan, pada tahun-tahun sebelumnya jumlah peserta pelatihan yang difasilitasi Pemkot Tangerang pernah menembus lebih dari 2.000 orang.
Selain keterampilan konvensional, Disnaker juga mulai memperluas pelatihan yang menyesuaikan perkembangan teknologi. Di antaranya content creator, digital marketing, semi-programmer, hingga pengenalan dasar kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Lebih lanjut, Ujang mengungkapkan, pihaknya berencana memperkuat pelatihan bahasa pada 2027. Langkah tersebut menjadi salah satu strategi menghadapi perubahan kondisi industri di Kota Tangerang, termasuk sejumlah industri yang berpindah ke daerah lain dan berpotensi berdampak terhadap tenaga kerja.
Menurutnya, penguasaan bahasa asing dapat menjadi bekal bagi masyarakat yang ingin mencari peluang pekerjaan di luar negeri. Terlebih, kesempatan kerja internasional dinilai dapat menjadi alternatif bagi pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Karena ini adalah sebuah mitigasi berkaitan dengan kondisi industri yang ada di Kota Tangerang. Banyak beberapa industri yang sudah beralih ke Jawa, dan yang bisa memfasilitasi para pekerja yang mendapatkan PHK adalah dengan mereka mengikuti lowongan kerja ke luar negeri,” pungkasnya.
Melalui Gebyar BLK 2026, Pemkot Tangerang berharap pelatihan keterampilan tidak berhenti pada proses pembelajaran semata. Lebih dari itu, BLK diharapkan menjadi jembatan bagi masyarakat untuk memperoleh pekerjaan, membangun usaha, serta meningkatkan kesejahteraan melalui kompetensi yang dimiliki. (*)
Reporter: M. Dhuyuf Khuzaimi








