Dua Dekade Abdul Haddad, Mengabdi sebagai Guru Agama di SDN Keroncong Mas Permai

Guru Agama SDN Keroncong Mas Permai, Abdul Haddad.

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Abdul Haddad, kiprahnya sebagai guru agama di SDN Keroncong Mas Permai, yang berlokasi di bilangan Kecamatan Jatiuwung telah mendedikasikan separuh hidupnya untuk mencetak generasi berakhlak mulia.

Pria berusia 53 tahun ini bukan sekadar pengajar, melainkan figur teladan bagi anak-anak didiknya. Perjalanan panjangnya di dunia pendidikan usai merampungkan kuliah Diploma Dua (D-2) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) pada tahun 2002 lalu.

Bacaan Lainnya

“Saya mengajar disini (SDN Keroncong Mas Permai) sudah 24 tahun. Jadi memang saya ngajar hanya disini saja,” ungkap Haddad saat ditemui, Selasa, 22 September 2026.

Ia memantapkan diri untuk mengabdi sebagai pendidik khususnya di bidang mata pelajaran agama Islam sesuai dengan jalur akademisnya.

Meniti karier sebagai guru honorer selama belasan tahun menuntut kesabaran ekstra. Dengan penghasilan yang pas-pasan, ayah dari empat anak ini tetap istiqomah. Meski demikian, demi meningkatkan kualitas kompetensinya ia juga kembali melanjutkan kuliahnya mengambil jenjang strata-1 fakultas Agama Islam di Universitas Terbuka. Buah dari keuletan dan kesabarannya mulai terlihat pada tahun 2013. Ditahun 2013 ia resmi mendapatkan tunjangan sertifikasi dari Kementerian Agama.

Semangat belajar Haddad terus menyala. Perjuangan panjang dan ketekunannya menimba ilmu akhirnya berbuah manis. Pada akhir tahun 2025 lalu, ia resmi diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) penuh waktu di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Tangerang.

“Mendidik itu bukan hanya mengajar, yang hanya transfer knowledge. Tetapi mendidik yang sejati adalah mengembangkan potensi siswa agar mengetahui kewajiban dan tanggung jawabnya,” ungkap Haddad .

Bagi Haddad, pelajaran agama Islam di tingkat sekolah dasar memegang peran yang krusial sebagai fondasi karakter anak. Oleh karena itu, ia tidak pernah membatasi pembelajarannya hanya sebatas teori di atas kertas. Ia aktif membimbing pembiasaan ibadah sehari-hari, menanamkan kedisiplinan, serta merawat budi pekerti anak-anak sejak usia dini.

Nilai-nilai kepemimpinan dan spiritualitas ia selipkan dalam setiap interaksi sehari-hari di sekolah.

“Dala program pembiasaan siswa terus kita tanamkan pembiasaan melaksanakan Salat berjamaah, mengaji dan membaca Salawat Nabi, setiap harinya,” ucapnya.

Haddad juga terus berpegang dalam program pengembangan keprofesian berkelanjutan Guru PAI, yang menekankan penguasaan
prinsip metode pengajaran yang efektif, profesional dalam mengelola kelas.

Meski telah memasuki usia 53 tahun, semangat Haddad sama sekali tidak meredup. Baginya, usia senja bukanlah halangan untuk terus berbuat dan bermanfaat bagi sesama. Selain aktif mendidik di sekolah, ia berkomitmen untuk terus mendedikasikan dirinya di tengah masyarakat sebagai guru agama. Bagi Haddad, ruang kelas dan lingkungan tempat tinggal adalah ladang amal untuk terus merawat lentera iman generasi penerus bangsa.(*)

 

 

Pos terkait