Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi Malam Hari, Kolom Abu Tak Terpantau

GAK di Perairan Selat Sunda, kembali meletus pada Minggu 6 September 2026 malam hari sekitar pukul 20.23 WIB, sempat terabadikan melalui video dan ramai diperbincangkan di media sosial.

SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Gunung Anak Krakatau (GAK) di Perairan Selat Sunda, kembali meletus pada Minggu 6 September 2026 pada malam hari sekitar pukul 20.23 WIB.

Namun ketinggian kolom abu erupsi tidak dapat diamati, lantaran kondisinya malam hari disertai pandangan di sekitar pos pengamatan yang telah tertutup kabut.

Bacaan Lainnya

Letusan GAK tersebut sempat terabadikan melalui video milik warga, dan ramai diperbincangkan di Media Sosial (Medsos).

Pengamat Gunung Api pada Pos Pantau GAK Pasauran Andi Suwardi membenarkan, adanya letusan dari GAK pada Minggu malam, yang kini menjadikannya letusan ketiga pada hari yang sama.

Karena terjadi pada malam hari dan pandangan di sekitar pos pengamatan tertutup kabut, membuat tinggi kolom abu erupsi tidak dapat diamati dari Pos Pantau GAK Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang.

“Tidak bisa teramati tingginya, karena kan malam hari gelap, di pos view nya lebih banyak tertutup kabut siang dan malam. Namun, aktivitas letusan tersebut terekam pada seismogram, dengan amplitudo maksimum 58 milimeter dan durasi sekitar 44 detik,” katanya melalui telepon seluler wartawan, pada Senin 7 September 2026.

Andi mengatakan, pihaknya sampai sekarang masih melakukan pemantauan terhadap aktivitas GAK, dan dipastikan abu vulkanik dari erupsi yang terakhir mulai berhenti.

“Sementara ini abu vulkanik mulai berhenti, tapi kalau aktivitas GAK masih terus kita pantau, jika terjadi sesuatu langsung diinformasikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Dikatakan Andi, soal pola keluarnya abu vulkanik, material tersebut umumnya keluar ketika terjadi erupsi, dan apabila lontaran material tinggi maka abu vulkanik dapat terbawa menuju wilayah yang sangat jauh.

“Saat erupsi saja, kalau erupsinya lebih tinggi lalu ada angin tentu akan mendorong abu vulkanik ini sampai ke tempat yang jauh, tapi kini abu vulkanik sudah berhenti,” ucapnya.

Andi menyebutkan, abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi GAK berpotensi mengganggu operasional penerbangan, apabila abu masuk ke dalam mesin pesawat.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan serius pada mesin pesawat, maka jika terdapat sebaran abu vulkanik, otoritas penerbangan akan mendapatkan informasi terkait aktivitas tersebut.

“Mesin pesawat bisa mati mendadak, makanya kalau ada abu, otoritas penerbangan langsung diberitahu secepatnya, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” tuturnya. (*)

 

Pos terkait