Raperda Transportasi Dibahas, DPRD Tangerang Dorong Integrasi Angkutan Umum

Wakil Ketua II DPRD Kota Tangerang Arief Wibowo saat diwawancarai, beberapa waktu lalu. Dhuyuf/bantenekspres.co.id.

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – DPRD Kota Tangerang bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang tengah membahas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penyelenggaraan Transportasi. Raperda tersebut merupakan inisiatif DPRD Kota Tangerang yang diharapkan menjadi pijakan dalam mewujudkan sistem transportasi umum yang terintegrasi, efisien, aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat.

Wakil Ketua II DPRD Kota Tangerang, Arief Wibowo, mengatakan pembenahan transportasi umum harus dilakukan berdasarkan kajian dan pemetaan pola mobilitas masyarakat. Hal itu dinilai penting mengingat banyak warga Kota Tangerang melakukan perjalanan rutin menuju Jakarta untuk bekerja maupun menjalankan aktivitas lainnya.

Bacaan Lainnya

“Yang pertama kali perlu kita perhatikan adalah bagaimana memastikan bahwa mobilitas yang rutin ini, dan dalam jumlah besar ini, bisa terfasilitasi dengan transportasi umum,” ujarnya kepada bantenekspres.co.id, Kamis (27/8).

Menurutnya, layanan transportasi umum yang difasilitasi Pemkot Tangerang saat ini di antaranya Bus Si Benteng sebagai angkutan pengumpan di wilayah lingkungan dan Bus Tayo yang beroperasi di jalur utama.

Untuk keberadaan Bus Tayo, kata Arief, telah membantu mobilitas warga, termasuk dalam mendukung konektivitas dengan moda transportasi lain seperti KRL. Namun, ia menilai pemerintah tetap perlu mengkaji kecukupan kapasitas layanan, terutama pada jam sibuk pagi dan sore.

Ia menyebut sedikitnya terdapat sejumlah komponen yang harus menjadi perhatian dalam penyelenggaraan transportasi umum, yakni kapasitas, keterjangkauan tarif, integrasi antarmoda, keselamatan, kecepatan, dan kenyamanan.

“Untuk keterjangkauan saya kira secara umum sudah cukup terjangkau. Tapi kalau bicara integrasi antarmoda, kapasitas, keselamatan, kecepatan, serta kenyamanan, ini menurut saya perlu dianalisa lebih lanjut,” katanya.

Arief menilai kajian tersebut penting untuk memastikan transportasi umum benar-benar mampu menjadi pilihan utama masyarakat. Sebab, tanpa layanan yang memadai, masyarakat akan tetap memilih kendaraan pribadi maupun transportasi berbasis aplikasi.

“Kalau transum ini tidak memenuhi komponen kebutuhan ini, maka sulit rasanya warga Kota Tangerang ini bermigrasi dari kendaraan pribadi ke transportasi umum,” ujarnya.

Selain itu, Arief juga menyoroti kondisi integrasi antarmoda di sejumlah wilayah Kota Tangerang. Berdasarkan pengalamannya sebagai komuter selama lebih dari dua dekade, ia menilai kawasan Tangerang Barat masih membutuhkan penguatan konektivitas transportasi.

Wilayah yang menjadi perhatiannya antara lain Tangerang, Karawaci, Cibodas, Jatiuwung, dan Periuk.

“Untuk Tangerang Barat, integrasi antarmodanya perlu diperbaiki menurut saya, sehingga memudahkan,” katanya.

Sementara untuk Tangerang Timur, ia menilai integrasi antarmoda relatif sudah baik. Namun, persoalan kapasitas masih perlu mendapat perhatian karena tingginya mobilitas masyarakat.

Menurutnya, keberadaan kereta dan layanan bus di kawasan tersebut perlu didukung kapasitas yang memadai agar mampu menampung kebutuhan penumpang.

Selain integrasi, Arief juga menilai rute transportasi umum, khususnya Si Benteng, perlu dievaluasi secara berkelanjutan. Evaluasi tersebut diperlukan untuk melihat tingkat efektivitas setiap koridor berdasarkan pola mobilitas masyarakat. Ia juga menyoroti tingkat okupansi Si Benteng yang menurut pengamatannya belum maksimal di sejumlah koridor.

“Kalau Si Benteng, hemat saya secara okupansi itu perlu diperbaiki. Kalau pengamatan saya pribadi, Si Benteng ini memang secara keterisian penumpang itu belum maksimal,” ujarnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa evaluasi harus dilakukan berdasarkan data, bukan sekadar pengamatan. Dishub dinilai perlu memiliki pemetaan pola perjalanan masyarakat secara lebih detail.

Dengan demikian, pemerintah dapat menentukan rute yang masih layak dipertahankan maupun rute yang perlu dialihkan ke kawasan lain yang memiliki kebutuhan lebih tinggi.

“Daripada kita menghabiskan anggaran untuk sesuatu yang tidak produktif, lebih baik dialihkan ke rute lain yang lebih efektif,” katanya.

Untuk meningkatkan kenyamanan sekaligus kepastian waktu perjalanan, Arief juga mengusulkan adanya aplikasi yang memungkinkan masyarakat memantau posisi armada transportasi umum secara langsung.

Melalui sistem tersebut, pengguna dapat mengetahui perkiraan kedatangan Bus Si Benteng atau Tayo di titik pemberhentian. Informasi tersebut dinilai dapat membantu masyarakat memperkirakan waktu perjalanan secara keseluruhan.

“Orang bisa memonitor, ‘Oh ini Si Benteng kira-kira lima menit lagi sampai ke titik tempat saya menunggu’. Atau Tayo sekitar 10 menit lagi sampai,” jelasnya.

Menurut Arief, kepastian waktu menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum. Terlebih, transportasi umum saat ini harus bersaing dengan kendaraan pribadi maupun layanan transportasi berbasis aplikasi.

Ia meyakini masyarakat akan beralih ke transportasi umum apabila layanan yang tersedia mampu menawarkan kecepatan, kenyamanan, tarif terjangkau, dan konektivitas yang baik.

Dari sisi fasilitas, Arief menilai sejumlah halte di Kota Tangerang masih perlu mendapat pembenahan. Ia mengaku masih menemukan halte yang kondisinya kurang terawat.

Sementara untuk kualitas pelayanan, ia menilai secara umum sudah cukup baik. Namun, kapasitas Bus Tayo di sejumlah rute pada jam sibuk perlu ditingkatkan.

“Kalau di Tayo menurut saya secara kapasitas, terutama di jam sibuk, itu perlu ditambah di rute-rute tertentu. Karena saya cukup melihat kepadatan yang tinggi,” ujarnya.

Untuk Si Benteng, Arief menilai kondisi armada saat ini relatif baik. Terlebih, layanan tersebut telah dilengkapi sejumlah teknologi pendukung seperti GPS, CCTV, dan sistem pembayaran elektronik.

Dari sisi tarif, ia juga menilai layanan transportasi umum di Kota Tangerang relatif terjangkau dibandingkan sejumlah moda transportasi swasta.

Arief menegaskan penyelenggaraan transportasi umum merupakan bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, biaya transportasi menjadi salah satu pengeluaran rutin yang cukup besar, terutama bagi masyarakat menengah dan bawah.

Karena itu, transportasi umum yang cepat, aman, nyaman, terjangkau, dan terintegrasi dapat membantu menekan biaya perjalanan masyarakat.

“Kalau kita bisa memperbaiki sistem transportasi umum kita, maka ini akan membantu masyarakat untuk mengurangi pengeluaran harian mereka, dan pada akhirnya akan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Di sisi lain, meningkatnya penggunaan transportasi umum juga dapat membantu mengurangi kemacetan dan polusi udara karena masyarakat mulai meninggalkan kendaraan pribadi.

Menurut Arief, hal tersebut sejalan dengan arah pembangunan daerah dalam mengurangi dampak polusi udara dan emisi gas rumah kaca.

Karena itu, ia berharap Raperda Penyelenggaraan Transportasi yang saat ini tengah diproses DPRD bersama Pemkot Tangerang dapat menjadi landasan hukum untuk memperbaiki tata kelola transportasi umum.

“Harapannya dengan adanya Raperda ini, kita memiliki landasan hukum untuk memperbaiki tata kelola penyelenggaraan transportasi di Kota Tangerang, khususnya yang terkait dengan transportasi umum,” pungkasnya.

Ia berharap regulasi tersebut nantinya mampu menghadirkan sistem transportasi yang membantu mobilitas masyarakat secara efisien, aman, terintegrasi, dan nyaman. (*)

Pos terkait