TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pengawas Pembina SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Dwi Hendri Prajitno mengungkapkan, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Provinsi Banten yang memilki Teaching Factory (TeFa) masih langka. Dari ratusan SMK yang ada, baru segelintir sekolah yang berhasil memenuhi persyaratan ketat pendirian TeFa.
“Di Kota Tangerang saja ada 120 SMK, yang punya Teaching Factory saya kira belum ada 10 ya, hanya beberapa saja, masih langka. Karena memang syarat membuka itu tidak gampang,” ungkap Hendri usai menghadiri peresmian Teaching Factory di SMK Kesehatan As-Syifa Kota Tangerang, Senin, 24 Agustus 2026.
Menurut Hendri, keberadaan Teaching Factory merupakan tolok ukur utama atau “ruh” dari sebuah Sekolah Kejuruan. Ia menyebutkan bahwa fasilitas pembelajaran berbasis industri ini dapat memberikan dampak positif langsung bagi warga di sekitar sekolah.
“SMK ini diukur salah satunya adalah di Teaching Factory. Keren enggak-nya SMK itu ketika dia mampu menghadirkan Teaching Factory. Apa itu Teaching Factory? Pabrik pembelajaran buat siswa, intinya itu,” ujar Hendri.
Ia menjelaskan, Teaching Factory berbeda dengan sekadar unit produksi biasa. TeFa murni dirancang untuk peningkatan kompetensi murid melalui kolaborasi nyata dengan dunia usaha dan dunia industri (Dudi) yang sesuai dengan konsentrasi keahlian sekolah, seperti SMK Kesehatan Asy-Syifa Kota Tangerang yang berkosentrasi pada bidang kesehatan dan farmasi.
Ia menyebutkan, syarat mendirikan Teaching Factory mencakup tiga hal utama yakni, sudah melakukan kerjasama dengan dunia industri. Kemudian adanya penyelarasan kurikulum dengan industri, serta kemampuan sekolah dalam menunjukkan kualifikasi yang dipersyaratkan untuk memenuhi standar kualifikasi, baik sekolah negeri maupun sekolah swasta.
“Seperti contohnya SMKN 1 maupun sekolah swasta seperti SMK Kesehatan As-Syifa ini yang telah menerapkannya harus melalui standar,” ujarnya.
Hendri juga menyampaikan apresiasi kepada pihak yayasan dan manajemen SMK Kesehatan Asy-Syifa yang telah sukses mewujudkan program ini. Ia berharap, Teaching Factory ini dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh warga sekolah.
“Ini menjadi tonggak buat SMK Asy-Syifa untuk menunjukkan levelnya sebagai SMK Asy-Syifa sekolah yang keren,” imbuhnya.
Ia juga menyoroti tingginya kebutuhan tenaga kerja di bidang kesehatan, khususnya farmasi dan keperawatan. Namun, peluang besar ini kerap terkendala oleh jumlah institusi kejuruan kesehatan yang masih terbatas khususnya di Provinsi Banten.
“Peluang kerja memang dikatakan farmasi keperawatan itu besar. Jadi kebutuhan untuk tenaganya besar, sementara suplai yang mengirim kurang banyak. Di Banten sendiri yang buka kesehatan itu enggak banyak,” jelasnya.
Dengan hadirnya Teaching Factory di SMK Kesehatan Asy-Syifa, Hendri berharap sekolah mampu menaikkan level dan branding-nya, serta memastikan para lulusannya benar-benar siap dan dicari oleh industri.(*)
Reporter : Abdul Aziz








