PAMULANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Forum Persatuan Guru Ngaji Kota Tangerang Selatan
(FPGN KTS) terus mendorong penguatan pendidikan Al Quran di tengah masyarakat melalui program Tangerang Selatan Mengaji.
Kegiatan Tangerang Selatan Mengaji kali ini digelar di Kecamatan Pamulang tepatnya di masjid Agung Al-Mujahidin Pamulang, Rabu, 19 Agustus 206. Kegiatan tersebut diikuti para guru ngaji, ustaz, tokoh agama, serta pengurus Forum Persatuan Guru Ngaji tingkat kota, kecamatan dan kelurahan.
Ketua Umum Forum Persatuan Guru Ngaji Kota Tangerang Selatan (FPGN KTS) Kota Tangsel Hamdani menyampaikan sejumlah agenda yang akan dilaksanakan dalam beberapa bulan ke depan. Salah satunya Festival Al Quran yang direncanakan berlangsung November 2026.
Para guru ngaji diminta mulai mempersiapkan para santrinya untuk mengikuti berbagai perlombaan yang akan digelar dalam festival tersebut.
“Saya titip kepada seluruh guru-guru ngaji, ustaz-ustaz yang punya santri, ayo bergerak, lakukan inovasi, berikan ilmu pengetahuan sesuai dengan perkembangan zaman, sesuai dengan era yang ada, tetapi tidak menghilangkan esensi dari proses belajar mengajar Al Quran,” ujarnya, Rabu, 19 Agustus 2026.
Hamdani menambahkan, Festival Al Quran akan menghadirkan lima jenis perlombaan yang akan diikuti para santri dari berbagai wilayah di Kota Tangsel. Karena itu, pengurus Forum Persatuan Guru Ngaji di tingkat kecamatan dan kelurahan diminta melakukan seleksi serta mempersiapkan santri terbaik untuk mengikuti kompetisi tingkat kota.
Selain Festival Al Quran, Forum Persatuan Guru Ngaji juga menyiapkan program Jambore Santri yang direncanakan digelar pada November mendatang. “Yang kedua, kita akan mengadakan namanya Jambore Santri. Insya Allah pelaksanaan juga di bulan November,” tambahnya.
Menurutnya, apabila jumlah peserta santri belum memungkinkan untuk pelaksanaan Jambore Santri, kegiatan tersebut dapat diarahkan menjadi jambore bagi para guru ngaji se-Kota Tangsel.
Program Tangerang Selatan Mengaji sendiri disebut sebagai gerakan yang diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial di tingkat kecamatan. Para guru ngaji didorong aktif memberikan pendidikan agama sekaligus membekali santri dengan pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan rencana pemberian apresiasi kepada para penghafal Al Quran. Sebanyak delapan orang penghafal Al Quran direncanakan akan dihadirkan dan mendapatkan apresiasi dari Baznas Kota Tangsel.
Program tersebut diharapkan semakin memperkuat peran guru ngaji dalam membangun generasi Kota Tangsel yang memiliki kemampuan keagamaan sekaligus mampu menghadapi perkembangan zaman.
“Kegiatan Tangerang Selatan Mengaji juga direncanakan terus bergulir di tujuh kecamatan secara bergantian sebagai bagian dari upaya memperluas pembinaan keagamaan dan mempererat silaturahmi para guru ngaji di Kota Tangsel,” tutupnya.
Sementara itu, Camat Pamulang Mamat, mengajak para guru ngaji untuk memperkuat pembinaan keagamaan sekaligus meningkatkan kompetensi dalam mendidik generasi muda di tengah derasnya pengaruh media sosial.
Ia yang baru sekitar 21 hari menjabat itu mengatakan, pembangunan wilayah tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Dukungan, partisipasi, ide dan masukan dari masyarakat, termasuk para guru ngaji, sangat dibutuhkan.
“Menjadi Camat di Kecamatan Pamulang tentunya butuh bantuan, dukungan, partisipasi, ide dan saran untuk membangun Pamulang bersama-sama. Kalau tidak didampingi dan tidak ada dukungan, tidak akan bisa bekerja,” ujarnya.
Menurutnya, semangat gotong royong menjadi kunci dalam menjalankan pemerintahan dan membangun wilayah dengan tujuan yang sama.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi keberadaan Forum Persatuan Guru Ngaji Kecamatan Pamulang beserta para guru ngaji yang selama ini berperan dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anak.
Ia berharap para guru ngaji yang terdaftar dalam kepengurusan Forum Persatuan Guru Ngaji Kecamatan Pamulang dapat memiliki sertifikat sebagai bentuk pengakuan sekaligus upaya meningkatkan kompetensi.
Selain itu, pihak kecamatan juga membutuhkan pendataan mengenai jumlah guru ngaji, lokasi kegiatan belajar mengaji serta jumlah anak didik yang dibina.
“Kami butuh bantuan untuk memberikan data. Bukan hanya ibu sebagai guru ngaji, mengajarnya di mana, berapa jumlah anak didik dan siapa yang mengajar. Kami nanti bisa mengetahui berapa kekuatan anak-anak kita yang mengaji di Kecamatan Pamulang,” tambahnya.
Mamat menilai, pendataan tersebut penting karena para santri yang saat ini mendapatkan pendidikan dari guru ngaji merupakan generasi yang akan meneruskan pembangunan di masa mendatang.
Karena itu, materi pendidikan juga perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, derasnya pengaruh media sosial menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
“Anak-anak kita yang kita ajar ini adalah generasi ke depan yang akan menggantikan kita. Sekarang harus lebih memberikan materinya karena pengaruh luar begitu luar biasa, terutama media sosial,” tuturnya. (*)










