Kukuh Wahyudi, Mengabdi 39 Tahun di DoeTa dari Guru Honorer hingga Jelang Pensiun

Kepala SMA Negeri 2 Kota Tangerang, Kukuh Wahyudi (kaos putih) diapit para guru dan siswa berprestasi.

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID — Perjalanan hidup seorang pendidik seringkali diwarnai oleh perpindahan tugas ke berbagai tempat demi mencari pengalaman baru. Namun, prinsip tersebut tidak berlaku bagi Kukuh Wahyudi. Sejak awal meniti karier sebagai guru honorer hingga kini memegang kendali kepemimpinan, Kepala SMAN 2 Kota Tangerang ini telah mendedikasikan seluruh masa baktinya selama 39 tahun di sekolah yang sama, yaitu di DoeTa, julukan SMA Negeri 2 Kota Tangerang yang berlokasi di Jalan TMP Taruna, Kecamatan Tangerang. Ia juga berencana mengakhiri masa pengabdiannya di sekolah ini pada awal tahun 2027 mendatang.

Kukuh memulai perjalanan kariernya di SMAN 2 Kota Tangerang sejak diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada tahun 1989. Saat itu, sekolah tersebut masih berada di bawah naungan Pemerintah Kota Tangerang sebelum akhirnya beralih ke tingkat provinsi Banten. Berturut-turut ia melakoni peran mulai dari guru, wakil kepala sekolah, hingga akhirnya dipercaya menjabat sebagai kepala sekolah sejak 2017 hingga saat ini.

Bacaan Lainnya

Meski sempat berkeinginan untuk pindah guna mencari tantangan baru di lingkungan pendidikan lain, permohonan tersebut tak pernah terwujud. Di balik status SMAN 2 yang kerap dilekatkan sebagai “sekolah favorit” oleh masyarakat, mengingat sejarahnya sebagai dambaan para pejabat, orang tua, dan siswa berprestasi, Kukuh justru merendah.

“Saya mah bukan kepala sekolah sebenarnya mah, saya mah penjaga sekolah yang harus jaga dari pendidik-pendidik itu,” ujar Kukuh saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.

Ia mengakui, bahwa mempertahankan status dan kualitas sebuah sekolah yang telah lama menjadi acuan masyarakat bukanlah tugas yang mudah. Beban mental tersebut diiringi dengan rasa bangga yang mendalam terhadap pencapaian institusi yang dipimpinnya, terutama dalam hal pelayanan publik dan pendidikan.

Di bawah kepemimpinannya, SMAN 2 Kota Tangerang menjelma menjadi “gudang prestasi” bagi para siswanya, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Sekolah ini mendominasi yang kuat pada bidang non-akademik. Bahkan, pihak sekolah memiliki tradisi unik di mana setiap hari Senin para siswa rutin menyetor piala, medali, atau trofi kemenangan saat pelaksanaan upacara bendera.

Begitu banyaknya penghargaan yang diraih membuat ruang-ruang di SMAN 2 tersebut mulai dari ruang kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ruang guru, ruang Bimbingan Konseling (BK), hingga perpustakaan—dipenuhi oleh deretan trofi kemenangan.

“Hampir semua ruangan jadi semalem gudang piala,” kata Kukuh sambil tersenyum.

Prestasi gemilang tersebut dibuktikan melalui kontribusi besar siswa SMAN 2 bagi Kota Tangerang, seperti menjadi penyumbang piala terbanyak yang membawa Kota Tangerang keluar sebagai Juara Umum Pekan Olahraga Daerah (Popda). Selain itu, para siswa juga aktif dan mendominasi berbagai cabang olahraga seperti bola basket, pencak silat, hingga bidang seni di level nasional maupun internasional.

Menanggapi stigma bahwa SMAN 2 hanya diisi oleh bibit-bibit unggul, Kukuh meluruskan bahwa sistem Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) saat ini menggunakan berbagai jalur, mulai dari zonasi/domisili, afirmasi, perpindahan tugas orang tua, hingga jalur prestasi yang persentasenya hanya sekitar 30 persen.

“Artinya, sebagian besar siswa yang datang tidak semuanya langsung berstatus sebagai anak berprestasi. Kita juga membentuk anak itu berprestasi terutama pada bidang akademik,” ungkap Kukuh.

“Jadi 70 persen anak-anak yang datang ke sini kan tidak punya prestasi, bahkan banyak energi negatif lagi, anak bandel dan sebagainya. Tapi setelah masuk sini, kita upayakan anak-anak ini yang punya energi negatif kita ubah jadi energi positif, sehingga nanti punya prestasi,” sambungnya.

Tantangan tersebut dijawab melalui penerapan disiplin positif, yakni pola pembinaan yang memotivasi siswa untuk tumbuh kembang tanpa kekerasan fisik. Sekecil apapun kesalahan siswa diingatkan secara bijak, sementara masalah yang lebih besar diselesaikan dengan mencari solusi terbaik agar siswa bersangkutan dapat memperbaiki diri.

Kukuh Wahyudi yang lahir pada tahun 1967 dijadwalkan akan memasuki masa purnabakti atau pensiun pada awal Januari 2027 mendatang, mengingat batas usia pensiun bagi pejabat fungsional guru adalah 60 tahun.

Menjelang akhir masa jabatannya, ia berharap agar SMAN 2 Kota Tangerang terus mempertahankan kultur kolaborasi yang kuat antara guru, pegawai, siswa, orang tua, dan para pemangku kepentingan. Menurutnya, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak bertumpu semata pada figur kepala sekolah, melainkan pada kerja sama tim yang solid.

“Harapannya, kita ingin menjadi sekolah berkarakter, berprestasi, sukses, dan menjawab tantangan global ke depan. Kita berusaha menjadikan SMAN 2 menjadi SMAN 2 yang hebat dan seterusnya,” tutupnya.(*)

Reporter : Abdul Aziz

Pos terkait