Muswil II IPK Banten Jadi Momentum Perluas Akses Layanan Kesehatan Mental

Muswil II IPK Banten Jadi Momentum Perluas Akses Layanan Kesehatan Mental
Musyawarah Wilayah (Muswil) II Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Berlangsung di Hotel Vega Kawasan Gading Serpong dihadiri Kadinkes Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti. Minggu (5/7). Foto Ahmad Syihabudin/Bantenekspres.co.id

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Musyawarah Wilayah (Muswil) II Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Banten tidak hanya menjadi ajang pergantian kepengurusan, tetapi juga momentum memperkuat layanan kesehatan mental yang lebih dekat dan merata bagi masyarakat.

Muswil yang digelar di Hotel Vega, Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, Minggu 5 Juli 2026 diikuti lebih dari 40 anggota secara luring dan ratusan peserta secara daring dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Banten.

Bacaan Lainnya

Ketua IPK Indonesia Wilayah Banten, Sake Pramawisakti, mengatakan Muswil merupakan agenda empat tahunan yang sekaligus menjadi proses regenerasi kepengurusan periode 2026–2030.

“IPK Indonesia baru berdiri pada 2017, sehingga ini merupakan Muswil kedua di Banten. Agenda utamanya adalah regenerasi kepengurusan untuk periode 2026 hingga 2030,” ujar Sake.

Menurutnya, regenerasi bukan sekadar pergantian pemimpin, tetapi upaya memperkuat organisasi agar mampu menjawab meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat.

Muswil mengusung tema “Pahami Dirimu, Peluk Erat Jiwamu” dengan maskot badak Arka Safanta, sebagai simbol ketenangan dan harapan agar masyarakat Banten semakin peduli terhadap kesehatan mental.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Harapannya, pelayanan psikolog klinis semakin dekat dengan masyarakat,” katanya.

Sake menjelaskan, psikolog klinis merupakan tenaga kesehatan yang berada di bawah pembinaan Kementerian Kesehatan dan wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) serta Surat Izin Praktik (SIP).

Berbeda dengan psikolog di bidang pendidikan maupun industri, psikolog klinis menangani persoalan kesehatan jiwa seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan psikosomatis hingga berbagai gangguan psikologis lainnya melalui asesmen dan terapi profesional.

Selain pelayanan kuratif, psikolog klinis juga aktif menjalankan program promotif dan preventif melalui kerja sama dengan berbagai instansi, termasuk Dinas Pendidikan, untuk memberikan edukasi kesehatan mental kepada anak dan remaja.

Saat ini IPK Banten memiliki 291 psikolog klinis yang telah tersebar di seluruh delapan kabupaten/kota di Provinsi Banten, meski sebagian besar masih terkonsentrasi di wilayah Tangerang Raya.

Pemerintah Perkuat Layanan Kesehatan Jiwa

Ati Pramudji Hastuti
Kadinkes Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti (dua dari kanan)

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti menegaskan Muswil harus menjadi momentum evaluasi sekaligus penyusunan program yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Muswil ini bukan sekadar memilih pengurus baru. Ini harus menjadi momentum mengevaluasi program kesehatan jiwa agar benar-benar membumi dan memperkuat pelayanan kesehatan di Provinsi Banten,” ujarnya.

Ati mengatakan persoalan kesehatan mental kini menjadi tantangan serius. Berdasarkan data Riskesdas 2023, gangguan kesehatan jiwa terus meningkat dan telah masuk lima besar masalah kesehatan di Indonesia.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Banten tengah menyusun Rencana Kebutuhan (Renbut) tenaga psikolog klinis sebagai dasar pemerataan tenaga di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

“Ke depan kami ingin seluruh fasilitas pelayanan kesehatan terintegrasi dengan layanan kesehatan jiwa. Karena itu kami sedang menyusun rencana kebutuhan tenaga psikolog klinis,” katanya.

Menurut Ati, pemerintah juga menargetkan keberadaan psikolog klinis hingga tingkat puskesmas agar pelayanan kesehatan mental semakin mudah diakses masyarakat.

Ia mengakui tantangan terbesar saat ini bukan hanya jumlah tenaga psikolog klinis, tetapi juga persebarannya yang masih didominasi wilayah Tangerang Raya, sementara wilayah barat dan selatan Banten masih membutuhkan tambahan tenaga.

Peran Psikolog Klinis Makin Strategis

Ati juga menegaskan psikolog klinis berbeda dengan psikiater. Psikolog klinis lebih berfokus pada asesmen psikologis, konseling, terapi, serta pendampingan agar masyarakat mampu mencegah gangguan mental yang lebih berat.

Menurutnya, peran psikolog klinis juga sangat penting dalam mendampingi pasien penyakit kronis seperti TBC, HIV, kanker, diabetes, dan hipertensi yang kerap mengalami tekanan psikologis selama menjalani pengobatan.

“Pasien penyakit kronis sering mengalami penurunan kondisi mental karena harus menjalani pengobatan yang lama. Di situlah psikolog klinis memberikan dukungan agar proses penyembuhan berjalan lebih optimal,” ujarnya.

Melalui Muswil II ini, IPK Banten berharap kepengurusan baru mampu memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah sehingga layanan kesehatan mental semakin merata, mudah diakses, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat di seluruh Provinsi Banten. (*)

Pos terkait