Baznas Kota Tangsel Targetkan Renovasi 50 Rumah Tidak Layak Huni Setiap Tahun

Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian Pada Baznas Kota Tangsel Ahmad Rifai. Tri Budi/Bantenekspres.co.id

SERPONG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Tangsel menargetkan renovasi sekitar 50 rumah tidak layak huni (RTLH) setiap tahun melalui program kemanusiaan yang bersumber dari dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya.

Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian Pada Baznas Kota Tangsel Ahmad Rifai mengatakan, program RTLH menjadi salah satu program unggulan di bidang kemanusiaan yang rutin dilaksanakan untuk membantu masyarakat kurang mampu memiliki hunian yang lebih layak.

Bacaan Lainnya

“Setiap tahun kami mengalokasikan sekitar 50 unit rumah untuk direnovasi. Program ini berdasarkan pengajuan masyarakat yang memenuhi kriteria sebagai penerima manfaat,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Kamis, 25 Juni 2026.

Menurutnya, besaran bantuan renovasi yang diberikan rata-rata mencapai sekitar Rp25 juta per unit rumah. Namun nilai bantuan tersebut dapat berbeda sesuai hasil asesmen yang dilakukan tim di lapangan.

“Besaran bantuan saat ini sekitar Rp25 juta per unit. Nanti tim asesmen akan melihat kondisi rumah dan menentukan kebutuhan renovasinya,” katanya.

Ia menjelaskan, dana program tersebut bukan berasal dari APBD, melainkan dari dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan yang dihimpun dari masyarakat, termasuk aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkot Tangsel.

“Dana yang kami gunakan berasal dari zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun dari masyarakat. Dana tersebut kemudian disalurkan untuk berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan kemanusiaan,” jelasnya.

Untuk tahun 2026, Baznas mencatat jumlah pengajuan bantuan RTLH mencapai sekitar 60 rumah. Namun karena keterbatasan anggaran, baru sekitar 50 rumah yang dapat masuk dalam program renovasi tahun ini.

“Permohonan yang masuk selalu lebih banyak dibanding kemampuan anggaran yang tersedia. Yang belum tertangani akan menjadi prioritas pada tahun berikutnya,” tuturnya.

Hingga pertengahan tahun ini, sekitar 20 rumah telah selesai atau sedang dalam proses renovasi. Sementara sisanya akan dilakukan secara bertahap sesuai ketersediaan anggaran dan jadwal pelaksanaan.

Dalam pelaksanaannya, renovasi tidak selalu dilakukan secara menyeluruh. Tim asesmen akan menentukan bagian rumah yang paling membutuhkan perbaikan, seperti atap, dinding, atau lantai.

“Minimal yang kami lihat adalah kondisi atap, dinding, dan lantai. Kalau misalnya dinding dan lantai masih bagus, maka perbaikan difokuskan pada bagian atap yang rusak,” ungkapnya.

Baznas juga menggandeng sejumlah vendor yang ditugaskan di wilayah kecamatan untuk mengerjakan renovasi rumah penerima manfaat. Waktu pengerjaan rata-rata berkisar dua hingga tiga minggu tergantung tingkat kerusakan bangunan.

“Kalau hanya perbaikan atap biasanya sekitar dua minggu selesai. Untuk renovasi yang lebih besar rata-rata maksimal tiga minggu,” katanya.

Ia menambahkan, bantuan renovasi rumah tersebut juga diharapkan dapat mendorong partisipasi masyarakat sekitar untuk ikut membantu warga yang membutuhkan melalui semangat gotong royong.

“Dana yang kami berikan sering kali menjadi stimulan. Kami juga berharap ada dukungan dari lingkungan sekitar agar hasil renovasi bisa lebih optimal dan manfaatnya semakin besar bagi penerima,” tutupnya. (*)

Pos terkait