PELITA SDN Sukasari 4, Murid Setorkan Minyak Jelantah Setiap Hari Rabu

Siswa-siswi SDN Karawaci 4 membawa minyak jelantah yang dibawa dari rumah masing-masing untuk disetorkan ke Ucollect Box yang tersedia di lingkungan sekolah setiap hari Rabu.

 

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID -Melalui program PELITA (Pelajar Peduli Minyak Jelantah) SDN Sukasari 4,para siswa diajak untuk mengumpulkan minyak jelantah dari rumah dan menyetorkannya ke Ucollect Box yang tersedia di lingkungan sekolah setiap hari Rabu.

Bacaan Lainnya

Guru SDN Sukasari 4, Syahrony, mengatakan program ini merupakan bagian dari pendidikan karakter sekaligus edukasi lingkungan yang melibatkan seluruh warga sekolah dan keluarga siswa.

“Melalui program PELITA, kami ingin menanamkan kebiasaan baik kepada anak-anak sejak dini. Mereka belajar bahwa minyak jelantah bukan sampah yang harus dibuang sembarangan, tetapi dapat dikelola menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat,” ujarnya, Senin 22 Juni 2026.

Menurutnya, kebiasaan membuang minyak jelantah ke selokan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi lingkungan. Karena itu, sekolah berupaya memberikan pemahaman kepada murid mengenai cara penanganan limbah rumah tangga yang benar.

“Anak-anak perlu mengetahui bahwa minyak jelantah yang dibuang ke saluran air dapat mencemari lingkungan dan mengganggu sistem drainase. Dengan mengumpulkannya di sekolah, mereka ikut berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan sekitar,” katanya.

Syahrony menambahkan, antusiasme murid terhadap program ini terus meningkat dari waktu ke waktu. Banyak siswa yang secara rutin membawa minyak jelantah setiap pekan setelah mendapatkan dukungan dari orang tua di rumah.

“Saya sangat bangga melihat semangat anak-anak. Setiap hari Rabu mereka datang dengan penuh antusias membawa minyak jelantah yang sudah disiapkan dari rumah. Ini menunjukkan bahwa pesan-pesan lingkungan yang kami sampaikan mulai dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah minyak yang terkumpul, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran lingkungan di kalangan peserta didik.

“Yang paling penting bukan sekadar banyaknya liter minyak yang terkumpul. Nilai utamanya adalah perubahan perilaku. Anak-anak belajar bertanggung jawab terhadap lingkungan dan menjadi agen perubahan di keluarga masing-masing,” jelasnya.

Dikatakannya, melalui keberadaan Ucollect Box di sekolah, proses pengumpulan minyak jelantah menjadi lebih mudah dan terorganisasi. Menurutnya, murid dapat menyetorkan minyak yang telah dikemas dalam wadah tertutup untuk kemudian dikelola lebih lanjut.

“Program ini mengajarkan bahwa langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama dapat menghasilkan dampak besar. Ketika satu anak membawa satu botol minyak jelantah, mungkin terlihat sederhana. Namun jika dilakukan oleh banyak siswa secara rutin, manfaatnya akan sangat besar bagi lingkungan,” ungkapnya.

Ke depan, Syahrony berharap program PELITA dapat terus berkembang dan menjadi budaya positif di SDN Sukasari 4. “Kami ingin membangun generasi yang peduli lingkungan, berkarakter, dan memiliki kesadaran untuk menjaga bumi sejak usia dini. Minyak jelantah yang dulu dianggap limbah, kini menjadi sarana pembelajaran yang berharga bagi anak-anak kami,” pungkasnya. (*)

 

Pos terkait