LEGOK,BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemerintah Desa Kemuning, Kecamatan Legok, terus meningkatkan upaya pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan melakukan fogging atau pengasapan di sejumlah lingkungan permukiman warga. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi penyebaran nyamuk Aedes aegypti yang menjadi penyebab utama DBD.
Kegiatan fogging dilakukan menyasar rumah-rumah warga serta area lingkungan yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Selain itu, Pemerintah Desa Kemuning juga mengajak masyarakat untuk aktif menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan yang dinilai paling efektif.
Kepala Desa Kemuning, Dadang, mengatakan bahwa fogging merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah desa untuk menekan potensi penyebaran DBD di wilayahnya, terutama saat memasuki musim kemarau yang identik dengan cuaca panas.
“Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa DBD hanya muncul saat musim hujan. Padahal, pada musim kemarau dan cuaca panas, nyamuk penyebab DBD juga dapat berkembang biak dengan cepat apabila masih terdapat genangan air atau tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk,” kata Dadang kepada Bantenekspres.co.id, Senin 22 Juni 2026.
Menurutnya, fogging dilakukan untuk membasmi nyamuk dewasa yang berpotensi menyebarkan virus dengue. Namun demikian, upaya tersebut harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Fogging memang penting sebagai langkah pencegahan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat menjaga lingkungannya tetap bersih. Jika lingkungan bersih dan tidak ada tempat perkembangbiakan nyamuk, maka risiko penyebaran DBD juga akan berkurang,” ujarnya.
Dadang menjelaskan, nyamuk penyebab DBD kerap bertelur di tempat-tempat yang menampung air bersih, seperti bak mandi, ember, talang air, hingga barang-barang bekas yang dibiarkan terbuka di sekitar rumah.
“Kami mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksa penampungan air di rumah masing-masing. Jangan sampai ada jentik atau telur nyamuk yang dibiarkan berkembang. Bak mandi harus rajin dikuras dan wadah penampung air harus dibersihkan secara berkala,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan warga agar tidak menumpuk barang-barang bekas yang sudah tidak digunakan. Pasalnya, barang bekas yang terkena air hujan atau menampung air dapat menjadi lokasi ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak.
“Kaleng bekas, botol plastik, ban bekas, maupun barang lainnya yang sudah tidak terpakai harus segera dirapikan atau dibuang pada tempatnya. Barang-barang tersebut sering kali menjadi sarang nyamuk tanpa disadari,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dadang menegaskan bahwa pencegahan DBD bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah desa, melainkan membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat.
“Kami berharap masyarakat dapat bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan. Pemerintah desa bisa melakukan fogging dan sosialisasi, tetapi keberhasilan pencegahan DBD sangat bergantung pada kesadaran warga untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” paparnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Desa Kemuning akan terus melakukan pemantauan serta memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang-barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
“Kalau semua warga peduli terhadap kebersihan lingkungan, maka penyebaran DBD bisa dicegah sejak dini. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk lebih waspada dan tidak menganggap sepele keberadaan jentik nyamuk di sekitar rumah,” tutupnya. (*)










