Kisah Pilu! Penjual Gorengan di Tigaraksa Rawat Dua Anak ODGJ Seorang Diri

Kisah Pilu! Penjual Gorengan di Tigaraksa Rawat Dua Anak ODGJ Seorang Diri
Warga Desa Tapos, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Endar Wati (50) harus menjadi tulang punggung keluarga sekaligus merawat dua anaknya yang mengalami gangguan kejiwaan

TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID — Di rumah sederhana di Desa Tapos, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Endar Wati (50) menjalani hidup penuh perjuangan. Sejak sang suami meninggal dunia, ia harus menjadi tulang punggung keluarga sekaligus merawat dua anaknya yang mengalami gangguan jiwa.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Endar berjualan gorengan keliling dengan penghasilan yang tak menentu. Pendapatan itu harus dibagi untuk biaya makan sekaligus pengobatan kedua anaknya.

Bacaan Lainnya

Salah satu anaknya, Fitri Oktaviani (22), telah mengalami gangguan jiwa selama hampir 10 tahun. Kondisinya disebut cukup berat hingga keluarga sempat melakukan pemasungan karena Fitri kerap mengamuk dan dikhawatirkan membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Cobaan keluarga itu semakin berat setelah suami Endar meninggal dunia beberapa waktu lalu. Kini seluruh tanggung jawab keluarga berada di pundaknya seorang diri.

Tak hanya Fitri, anak sulung Endar juga mengalami gangguan jiwa. Namun kondisinya mulai membaik setelah menjalani pengobatan rutin di rumah sakit jiwa.

“Kalau kakaknya setelah berobat ke rumah sakit jiwa di Grogol sekarang terlihat hampir sembuh,” kata Endar, Minggu 24 Mei 2026.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Endar mengaku kerap kewalahan menjalani kehidupan sehari-hari. Hasil berjualan gorengan keliling nyaris tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya pengobatan.

“Kini saya menjadi kepala keluarga dengan dua anak yang menderita sakit mental, sedangkan pendapatan hanya dari berjualan gorengan keliling,” tuturnya lirih.

Sementara itu, tim kesehatan dari puskesmas setempat telah mendatangi rumah keluarga tersebut pada Rabu 10 Mei 2026 untuk melakukan pemeriksaan dan pendampingan.

Endar berharap kedua anaknya mendapat perhatian dan bantuan dari berbagai pihak agar bisa memperoleh penanganan yang lebih baik dan berpeluang sembuh.

Tokoh masyarakat setempat, Ahmad Hidayat (46), mengatakan kondisi keluarga tersebut sangat memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius.

“Sudah tiga kali Fitri dibawa berobat ke rumah sakit jiwa di Grogol, Jakarta. Namun hingga kini belum ada perbaikan kondisi yang signifikan,” ujar Hidayat.

Menurutnya, Fitri membutuhkan penanganan lebih intensif melalui rehabilitasi di panti khusus perempuan agar proses pemulihannya dapat berjalan lebih optimal.

Ia mengaku telah berkomunikasi dengan admin influencer Novianti Pratiwi untuk membantu proses rehabilitasi Fitri melalui lembaga swasta.

“Saya berharap Fitri bisa ditangani lebih baik di panti rehabilitasi khusus perempuan. Karena selama ini berobat ke RSJ Grogol belum juga sembuh,” ungkapnya. (*)

Pos terkait