Hari Santri 2026, PWNU Banten Tekankan Tiga Prinsip Utama Santri di Era Digital

Pengasuh Ponpes Technopreneur As Shofa Rajeg sekaligus Wakil Ketua PWNU Banten, Gus Nurrohman menyampaikan tiga pesan krusial pada Hari Santri Nasional 2026. Foto: Dokumentasi Pribadi

RAJEG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum penting bagi para santri untuk memperkuat peran di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Bacaan Lainnya

Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Technopreneur As-Shofa Rajeg, Gus Nurrohman menyampaikan tiga pesan dan prinsip utama bagi seluruh santri.

 

Sesuai dengan tema besar yang diusung PBNU pada Hari Santri Nasional 2026, yakni ‘Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan NKRI’, Gus Nurrohman menegaskan, santri masa kini harus mampu menyeimbangkan kemajuan zaman dengan fondasi keilmuan agama yang kuat.

 

“Pertama, kuatkan akar, jangan sampai tercerabut oleh zaman. Teknologi hari ini sudah menguasai segalanya, kita wajib ikuti perkembangannya. Namun, jangan sekali-kali meninggalkan sanad keilmuan yang tersambung sampai Rasulullah, adab, kitab kuning, serta tradisi pesantren,” tegas Gus Nurrohman saat menyampaikan keterangannya, Kamis, 22 Oktober 2026.

 

Menurutnya, akar tradisi dan keilmuan yang kuat merupakan modal utama santri untuk melangkah ke depan, bukannya menjadi beban perkembangan zaman.

 

Prinsip kedua yang ditekankan oleh Gus Nurrohman adalah keterlibatan aktif santri dalam menjawab tantangan bangsa. Di era modern ini, santri dituntut untuk tidak sekadar pandai mengaji, tetapi juga harus menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan nasional maupun global.

 

“Santri hari ini harus produktif, kreatif, berkarakter dan siap masuk ke bidang-bidang strategis, mulai dari pendidikan, ekonomi, teknologi, lingkungan, hingga kepemimpinan. Jadi solusi, jadi pemain, bukan sekadar penonton. Semakin kuat akarnya, semakin luas pengabdiannya,” ujarnya.

 

Sementara pada prinsip ketiga, ia mengingatkan pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semangat Resolusi Jihad 1945 yang dicetuskan para ulama dan santri terdahulu harus terus dirawat dan diimplementasikan melalui tindakan nyata saat ini.

 

“Santri sudah membuktikan cintanya terhadap bangsa dan negara ini. Saatnya hari ini kita merawat persaudaraan dan kebhinekaan, serta menguatkan NKRI lewat akhlak dan karya yang konkret,” lanjutnya.

 

Mengakhiri pesannya, Gus Nurrohman memberikan tamsil tentang pentingnya mewariskan kebaikan bagi masa depan. Ia mengajak seluruh elemen santri untuk tidak hanya menikmati warisan perjuangan, tetapi juga terus berkontribusi secara nyata.

 

“Para leluhur kita sudah menanam, saatnya hari ini para santri juga harus menanam, agar generasi yang akan datang dapat melanjutkan hasil tanaman kita,” pungkas Gus Nurrohman. (*)

 

Reporter: Zakky Adnan

Pos terkait