SERPONG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemkot Tangsel mulai menguji coba penanaman padi apung di kawasan Tandon Ciater Serpong sebagai upaya mendukung program ketahanan pangan nasional. Inovasi ini dilakukan dengan memanfaatkan aset daerah yang selama ini berfungsi sebagai tempat penampungan air.
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, uji coba tersebut menjadi strategi untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan di tengah keterbatasan areal persawahan di Kota Tangsel. Jika berhasil, tandon akan dikembangkan agar memiliki fungsi tambahan untuk mendukung produksi pangan.
“Program Bapak Presiden tentang ketahanan pangan kita implementasikan di daerah. Walaupun Tangsel tidak punya sawah, kita usahakan tandon-tandon yang ada menjadi multifungsi, termasuk untuk tanaman padi,” ujarnya saat meninjau uji coba penanaman padi, Senin, 26 Oktober 2026.
Benyamin menambahkan, pelaksanaan uji coba melibatkan Dinas Pertanian Provinsi Banten, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Kementerian Pertanian, serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkot Tangsel.
Menurutnya, pemanfaatan tandon sebagai lokasi pertanian harus tetap memperhatikan fungsi utamanya sebagai tempat penampungan air. Terlebih, kawasan tersebut merupakan aset pemerintah daerah yang tercatat pada dinas terkait.
“Pada tahap awal, penanaman dilakukan menggunakan 200 styrofoam. Setiap styrofoam diisi 21 pot, dengan masing-masing pot ditanami tiga bibit padi varietas Inpari 32,” tambahnya.
Menurutnya, varietas tersebut dipilih karena dinilai sesuai dengan kondisi perairan di kawasan tandon. Pemkot Tangsel menargetkan hasil uji coba dapat diketahui melalui panen pada akhir Januari mendatang.
Benyamin mengatakan, hasil panen akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan kelayakan dan potensi pengembangan program tersebut. Sebagai target awal, pemerintah berharap produktivitas padi dapat mencapai tiga ton per hektare.
“Dalam satu hektare kita harapkan bisa tiga ton dulu panen padi nantinya. Ini ada 2,4 hektare, nanti kita coba satu hektare dulu. Kalau sudah dapat hasilnya, baru kita hitung pengembangannya di tandon-tandon yang lain,” jelasnya.
Selain padi, Pemkot Tangsel juga membuka peluang untuk mengembangkan komoditas lain, seperti sayuran, cabai, dan tanaman hortikultura. Pemerintah bahkan berencana mengombinasikan penanaman dengan budidaya ikan untuk mengoptimalkan pemanfaatan kawasan perairan.
Meski demikian, Benyamin menegaskan bahwa program tersebut masih dalam tahap uji coba. Pemerintah akan mengevaluasi hasil panen, menghitung manfaat ekonomi, serta mengukur potensi dampaknya terhadap ketahanan pangan dan pengendalian inflasi daerah.
Ia juga meminta Dinas Pertanian bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) melakukan kajian agar program tersebut memiliki indikator keberhasilan yang jelas.
“Hasil panen nantinya berpeluang dimanfaatkan untuk mendukung kelompok wanita tani (KWT), KTNA, serta masyarakat pada kelompok desil 1 dan desil 2,” tuturnya.
Benyamin menuturkan, berdasarkan pendataan awal, Kota Tangsel memiliki sekitar 24 tandon di luar Situ Gintung. Namun, pemanfaatan seluruh tandon untuk pertanian belum dipastikan karena harus disesuaikan dengan hasil uji coba dan kondisi setiap lokasi.
Untuk mendukung pengembangan pertanian perkotaan, Pemkot Tangsel juga berencana melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari TNI, Pramuka, Karang Taruna hingga Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas).
“Kita juga punya Pramuka, Karang Taruna, dan Satlinmas yang nanti bisa dilibatkan. Semuanya harus menjadi petani-petani muda untuk masa depan,” tutupnya. (*)










