DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus Korban Rudapaksa di Cipondoh

Kepala UPTD PPA DP3AP2KB Kota Tangerang Titto Chairil Yustiadi.

 

TANGERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Korban rudapaksa oleh temannya di bilangan Kecamatan Cipondoh, tengah menjalani proses pemulihan trauma (trauma healing) yang dilakukan tim Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangerang.

Bacaan Lainnya

Kepala UPTD PPA DP3AP2KB Kota Tangerang Titto Chairil Yustiadi mengungkapkan, pihaknya telah memberikan layanan komprehensif mulai dari aspek hukum hingga kesehatan mental, di bawah pengawasan tenaga ahli. Langkah ini diambil untuk memastikan kondisi mental korban tetap stabil pasca kejadian tragis yang menimpanya.

Ia memastikan korban tidak berjalan sendiri. Sejak laporan dibuat, serangkaian tindakan medis dan psikis telah diberikan.

“Untuk penanganan terhadap korban sudah kami lakukan pendampingan terkait pembuatan laporan polisi, pemeriksaan visum dan saat ini sedang kami lakukan konseling psikolog di UPTD PPA,” ujar Titto, belum lama ini.

Ia menuturkan, pendampingan telah dimulai pada 27 April 2026, setelah laporan dibuat ke kepolisian.

“Sejak 27 April kami mendampingi korban, mulai dari pelaporan ke Polres Metro Tangerang Kota hingga pemeriksaan visum di rumah sakit pada hari yang sama,” katanya.

Ia menegaskan, pendampingan dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek hukum, medis, dan psikologis. Pada hari pertama, tim bahkan mendampingi korban hingga malam hari untuk memastikan seluruh prosedur awal terpenuhi.

Saat ini, kondisi korban masih dalam tahap pemulihan, terutama secara psikologis. UPTD PPA telah memberikan konseling awal dan terus memantau perkembangan korban.

“Secara kasat mata korban terlihat lelah. Konseling sudah kami lakukan, namun hasil detailnya masih kami evaluasi sesuai perkembangan,” ujarnya.

Dikatakan Titto, proses konseling ini sangat krusial, mengingat selain untuk memulihkan kondisi mental korban, hasilnya juga diperlukan sebagai bagian dari kelengkapan berkas penyidikan kepolisian.

Titto menjelaskan, bahwa agenda trauma healing ini mulai diintensifkan hari ini. Meski mengalami guncangan hebat, korban saat ini tidak ditempatkan di rumah aman melainkan kembali ke lingkungan keluarga dengan pengawasan ketat.

“Konseling psikolog untuk pemulihan trauma dan kepentingan penyidikan. Dilakukan hari ini, didampingi keluarga, saat ini korban masih tinggal bersama keluarga,” katanya.

Karena korban merupakan anak di bawah umur, penanganan dilakukan dengan mekanisme perlindungan khusus, termasuk asesmen dan pendampingan jangka panjang. Sejak asesmen dilakukan, korban resmi berada dalam perlindungan UPTD PPA.

“Seluruh proses hukum dan pemulihan kami dampingi, baik pemeriksaan di kepolisian maupun konseling lanjutan,” ujarnya.

Ia menyampaikan, puhaknya juga menyiapkan rumah perlindungan (shelter) bagi korban yang membutuhkan pengamanan khusus. Di fasilitas tersebut, korban mendapat pendampingan intensif, termasuk konseling harian. Penggunaan shelter tersebut berdasarkan hasil asesmen psikolog.

“Jika diperlukan, korban akan mendapatkan perlindungan penuh di sana,” katanya.

Hingga kini, ia memastikan tidak ada kendala berarti dalam penanganan kasus. Koordinasi dengan kepolisian berjalan lancar, termasuk dalam pemeriksaan lanjutan seperti psikologi forensik yang telah dilakukan pada 4 Mei 2026 lalu.

Titto menambahkan, kasus ini turut menjadi perhatian serius. Ke depan, pihaknya akan melibatkan satuan tugas (satgas) di tingkat kecamatan untuk memantau kondisi korban secara berkala, baik dari sisi kesehatan maupun psikologis.

“Satgas kami siagakan untuk memastikan korban tidak mengalami tekanan lanjutan atau trauma berkepanjangan,” ujarnya.

Titto juga menyebutkan, pihaknya menyediakan layanan pengaduan darurat berbasis digital bernama Silacak Perak serta layanan kunjungan langsung (home visit) untuk menjangkau korban secara cepat.

Ia mengimbau, bagi orang tua meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak guna mencegah kasus serupa. “Kami harap orang tua lebih memperhatikan aktivitas anak, terutama di luar rumah,” pungkasnya.(*)

 

Pos terkait