Museum Multatuli Naik Kelas Tipe B Sebagai Tempat Penguatan Identitas Budaya

Museum Multatuli di Jalan Abdi Negara, Kecamatan Rangkasbitung . Foto : A Fadilah/BantenEkspres.co.id

RANGKASBITUNG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Museum Multatuli di Kabupaten Lebak ditetapkan sebagai Museum Tipe B oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui hasil Evaluasi Museum Tahun 2025 lalu.
Penetapan tipe B ini menunjukkan pengakuan pemerintah pusat terhadap peningkatan kualitas pengelolaan museum, mulai dari tata kelola, koleksi, pelayanan publik, hingga peran museum dalam edukasi masyarakat.

“Penetapannya sudah beberapa bulan lalu dan disertai sertifikat resmi yang ditandatangani oleh Menteri Kebudayaan RI,” kata M Yosef Holis, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Rabu 29 April 2026.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, status Tipe B merupakan hasil kerja keras tim museum dan berbagai pihak yang konsisten dalam memajukan ruang budaya dan edukasi sejarah di daerah.

“Alhamdulillah, ini merupakan kabar baik dan membanggakan bagi Kabupaten Lebak. Kenaikan peringkat Museum Multatuli menjadi Museum Tipe B menunjukkan bahwa pengelolaan museum kita terus mengalami peningkatan dan mendapat pengakuan dari pemerintah pusat,” ujarnya.

Dikatakan Yosef, Museum Multatuli tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak sejarah, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, diskusi dan penguatan identitas budaya.

“Saya berharap status baru ini dapat memperluas peran museum sebagai destinasi wisata edukatif yang unggul di Banten,” ujarnya.

Dengan status Tipe B, lanjut Yosef, Museum Multatuli diharapkan makin dikenal luas oleh pelajar, mahasiswa, dan wisatawan. Yosep juga menegaskan bahwa pihak pengelola akan terus memperbaiki kualitas layanan dan program museum agar kelak bisa naik ke tipe yang lebih tinggi lagi.

“Alhamdulillah pengunjung terus meningkat mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat,” paparnya.

Yosef menjelaskan, mseum Multatuli berdiri sejak 11 Februari 2018 di Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Museum didirikan dalam bangunan bersejarah bekas kantor kolonial dan diperuntukkan untuk mengenang sosok penulis antikolonial Multatuli (nama pena Eduard Douwes Dekker) dan mengedukasi publik tentang sejarah kolonialisme dan perjuangan anti-kolonialisme di Indonesia.

Museum Multatuli sejak awal dirancang bukan sekadar tempat pamer tetapi juga wadah literasi sejarah dan budaya yang membuka wawasan masyarakat tentang masa lalu. Keberhasilan meraih pengakuan sebagai Museum Tipe B menjadi bukti nyata bahwa upaya tersebut membuahkan hasil.

“Museum Multatuli kian diposisikan sebagai salah satu pusat kebudayaan penting di Banten, bukan hanya sekadar destinasi wisata, tetapi juga lembaga pendidikan sejarah yang memberi nilai tambah bagi generasi mendatang,” paparnya.(*)

 

Pos terkait