BANTENEKSPRES.CO.ID – Di wilayah Kota Tangerang, tepatnya di Kecamatan Batuceper, terdapat sebuah ruang budaya yang menyimpan jejak panjang sejarah Tionghoa Benteng. Tempat itu dikenal sebagai Kampung Budaya Tehyan. Ia bukan sekadar kampung tematik, melainkan pusat pelestarian tradisi yang tumbuh dari inisiatif warga dan komunitas budaya setempat.
Kampung ini lahir dari kesadaran bahwa warisan budaya Tionghoa Benteng perlu dirawat secara nyata, bukan hanya diceritakan dari generasi ke generasi. Nama “Tehyan” diambil dari alat musik gesek tradisional yang menjadi ikon kesenian masyarakat Tionghoa Benteng. Dari situlah identitas kampung ini dibangun.
Secara geografis, lokasinya tidak jauh dari pusat aktivitas warga Batuceper. Akses menuju kampung cukup mudah dijangkau kendaraan roda dua maupun roda empat. Begitu memasuki kawasan ini, pengunjung akan melihat penanda kampung budaya dengan ornamen khas Tionghoa Benteng yang sederhana namun mencolok.
Di dalamnya, suasana terasa lebih intim. Rumah-rumah warga berdiri berdampingan dengan bangunan yang difungsikan sebagai ruang pertunjukan dan galeri budaya. Dinding-dindingnya dihiasi foto dokumentasi lama yang merekam kehidupan masyarakat Tionghoa Benteng dari masa ke masa.
Salah satu daya tarik utama tentu saja alat musik tehyan itu sendiri. Instrumen berdawai dua ini dimainkan dengan cara digesek, menghasilkan suara yang melengking namun lembut. Di Kampung Budaya Tehyan, pengunjung dapat melihat langsung bentuk asli alat tersebut, memahami bagian-bagiannya, hingga menyaksikan cara memainkannya.
Tidak hanya tehyan, terdapat pula alat musik lain seperti kongahyan dan sukong yang biasa mengiringi orkes gambang kromong. Musik gambang kromong merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Betawi, yang hingga kini masih dimainkan dalam berbagai perayaan adat dan hajatan warga.
Di salah satu ruang, tersedia area latihan musik bagi anak-anak dan remaja. Mereka belajar memainkan alat musik tradisional secara rutin. Regenerasi menjadi perhatian penting, agar kesenian ini tidak berhenti pada generasi tua. Pengunjung kerap diperbolehkan mencoba memainkan alat musik dengan pendampingan pengajar.
Selain kesenian musik, kampung ini juga memperkenalkan busana tradisional Tionghoa Benteng. Kebaya encim dengan bordir khas, kain batik motif pesisir, hingga aksesori tradisional dipamerkan sebagai bagian dari identitas budaya. Penjelasan mengenai filosofi warna dan motif turut diberikan kepada pengunjung.
Ruang lain menampilkan perlengkapan upacara adat dan perayaan seperti Imlek dan Cap Go Meh. Lampion, altar kecil, hingga peralatan sembahyang dipajang untuk memberi gambaran tentang praktik keagamaan dan tradisi keluarga Tionghoa Benteng. Semua ditata sebagai media edukasi, bukan sekadar pajangan.
Kampung Budaya Tehyan juga menjadi tempat diskusi dan lokakarya budaya. Komunitas kerap mengadakan kelas kaligrafi, pelatihan tari tradisional, hingga diskusi sejarah lokal. Aktivitas ini membuat kampung tidak pernah benar-benar sepi kegiatan.
Bagi pelajar, tempat ini sering dijadikan tujuan kunjungan edukatif. Materi tentang akulturasi budaya dapat dipelajari secara langsung. Pengunjung bisa melihat bagaimana budaya Tionghoa berbaur dengan unsur Betawi dan Sunda dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Tak jauh dari kawasan ini, jejak sejarah Tionghoa Benteng juga dapat ditelusuri di kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang. Wilayah tersebut sejak lama menjadi pusat interaksi perdagangan dan budaya. Kampung Budaya Tehyan memperkaya pemahaman tentang akar sejarah tersebut dalam konteks yang lebih terfokus.
Dalam momen tertentu, kampung ini menggelar pertunjukan terbuka. Musik gambang kromong dimainkan, tari tradisional dipentaskan, dan warga sekitar turut meramaikan acara. Kegiatan semacam ini biasanya menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah.
Kampung ini juga memiliki sudut kuliner sederhana saat acara berlangsung. Beberapa makanan khas Tionghoa Benteng diperkenalkan kepada tamu, menambah pengalaman budaya yang lebih lengkap. Kuliner menjadi bagian penting dalam memahami tradisi suatu komunitas.
Secara arsitektural, bangunan di kampung ini mempertahankan nuansa rumah lama dengan sentuhan ornamen Tionghoa. Warna-warna cerah seperti merah dan emas digunakan sebagai simbol keberuntungan dan kebahagiaan dalam budaya Tionghoa.
Peran pemerintah daerah turut mendukung pengembangan kampung budaya ini sebagai destinasi edukatif. Keberadaannya dipandang sebagai bagian dari penguatan identitas lokal Kota Tangerang yang multikultural.
Bagi peneliti atau pemerhati budaya, Kampung Budaya Tehyan menjadi laboratorium sosial yang menarik. Di sini, akulturasi tidak hanya menjadi konsep akademik, tetapi praktik hidup yang terlihat dalam bahasa, musik, busana, dan tradisi keluarga.
Meski tidak luas, kampung ini menghadirkan pengalaman yang padat makna. Pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan pengelola maupun warga yang dengan terbuka menceritakan sejarah keluarga dan perjalanan budaya mereka.
Keberadaan Kampung Budaya Tehyan juga menjadi pengingat bahwa sejarah Tionghoa Benteng bukan bagian terpisah dari sejarah Tangerang. Ia tumbuh dan berkembang bersama kota, memberi warna dalam dinamika sosial yang terus berubah.
Kampung Budaya Tehyan adalah ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini. Di tengah perkembangan kota yang pesat, tempat ini berdiri sebagai pusat pelestarian, pendidikan, dan perayaan identitas. Dari bunyi gesekan tehyan hingga kisah yang dituturkan warga, semuanya membentuk narasi tentang keberagaman yang hidup dan terus dirawat di Kota Tangerang.









