PAMULANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Dalam upaya mencegah kekerasan dan tawuran di kalangan pelajar, SMP Islam Al Mujahidin Pamulang menghadirkan inovasi berupa saluran WhatsApp (WA) khusus sebagai ruang ekspresi dan curhat siswa.
Saluran tersebut diberi nama “SI-ALDIN” (Informasi Seputar Al Mujahidin). Kepala SMP Islam Al Mujahidin Pamulang, Maman Syaifurahman mengatakan, saluran ini menjadi wadah internal sekolah untuk menampung aspirasi, pertanyaan, hingga curhatan siswa secara lebih aman dan terjaga privasinya.
“Kadang anak-anak curhat ke orang tua, kadang ke teman, tapi privasinya kurang terjaga. Nah, kita buat saluran ini sebagai ruang dari kita untuk kita. Ada informasi atau pertanyaan, bisa masuk ke saluran WA itu,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Rabu, 25 Februari 2026.
Melalui saluran “SI-ALDIN”, pihak sekolah juga menyisipkan berbagai konten edukatif, termasuk kampanye anti-kekerasan dan anti-tawuran. Menurut Maman, di masa remaja sebagian pelajar masih menganggap tawuran atau kekerasan sebagai bentuk ekspresi diri dan simbol “keren”. Padahal, persepsi tersebut perlu diluruskan.
“Anak-anak itu kadang menganggap tawuran keren. Padahal dari mereka sendiri sebenarnya tahu itu tidak keren. Justru itu merugikan,” tambahnya.
Sekolah menanamkan pemahaman bahwa kekerasan bukan bentuk eksistensi diri, melainkan cerminan keputusasaan. Sebaliknya, siswa didorong membangun konsep diri yang positif melalui kegiatan produktif.
“Berani mengatakan tidak pada kekerasan, itu yang justru keren. Banyak cara untuk menunjukkan eksistensi tanpa harus tawuran,” jelasnya.
Dalam edukasi yang diberikan melalui SI-ALDIN, sekolah juga memaparkan sejumlah mitos dan fakta. Mitos, tawuran bukan tanda solidaritas. Tawuran sering terjadi karena tekanan pergaulan, bukan bentuk kekompakan sejati. Kekerasan tidak pernah benar. Tawuran adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.
Fakta, kejantanan bukan diukur dari otot. Menghindari tawuran tidak membuat remaja kehilangan maskulinitas atau dianggap tidak jagoan. Remaja keren dan dewasa adalah mereka yang mampu menghadapi tantangan dengan pikiran matang serta menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.
“Bangun konsep diri yang positif dengan fokus pada bakat, prestasi, serta kegiatan seperti olahraga dan organisasi sekolah.
Berani berkata tidak terhadap ajakan negatif dan menunjukkan kualitas diri melalui prestasi,” ungkaonya.
Maman juga menyoroti maraknya perilaku menyimpang di kalangan remaja, termasuk normalisasi bullying verbal yang kerap dianggap candaan. “Sekarang kita mulai ajarkan stop normalisasi bullying verbal, misalnya menyebut nama orang tua saat bercanda. Itu hal kecil tapi berdampak,” terangnya.
Terkait penanganan siswa yang terlibat tawuran, sekolah kini mengubah pendekatan dari sistem sanksi menjadi sistem komitmen dan konsekuensi.
“Kalau dulu paradigma sanksi, sekarang kita ubah menjadi komitmen dan konsekuensi. Jadi mereka sadar sendiri,” ungkapnya.
Sejak awal masuk sekolah, siswa telah memahami tata tertib serta konsekuensi jika melanggar. Misalnya, jika terlibat tawuran, maka akan diproses sesuai hukum dan sekolah tidak akan memberikan perlindungan.
“Konsekuensinya sudah mereka tahu. Jadi bukan lagi kita menghukum, tapi mereka sadar bahwa setiap tindakan ada akibatnya,” katanya.
Penerapan konsep tersebut juga berlaku dalam keseharian. Contohnya, jika siswa terlambat mengikuti kegiatan pagi seperti salat Dhuha, maka konsekuensinya mereka harus datang lebih awal keesokan harinya untuk menyambut teman-temannya serta mengganti kegiatan yang tertinggal.
“Mereka sudah paham konsekuensinya. Jadi tidak perlu disuruh-suruh lagi,” tambahnya.
“Melalui pendekatan ini, sekolah berharap kesadaran tumbuh dari dalam diri siswa, bukan karena takut hukuman, melainkan karena memahami dampak dari setiap tindakan yang dilakukan,” tutupnya. (*)












