CISOKA,BANTENEKSPRES.CO.ID – Suasana religius terasa kental di lingkungan SMPN 2 Cisoka selama bulan suci Ramadan. Namun, di balik lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibaca siswa muslim, terselip pemandangan lain yang tak kalah menyejukkan. Siswa non muslim duduk tenang membaca Alkitab mereka. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan perlakuan. Semua mendapatkan hak yang sama dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.
Di sekolah ini, keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang tumbuh dalam keseharian. Pihak sekolah memastikan setiap siswa, baik muslim maupun non muslim, memperoleh ruang dan kesempatan yang setara untuk menjalankan kegiatan keagamaan.
Kepala SMPN 2 Cisoka, Dadang Sulastowo, menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik tanpa memandang latar belakang agama.
“Di SMPN 2 Cisoka, kami tidak pernah membedakan siswa berdasarkan agama. Semua memiliki hak yang sama untuk beribadah dan mengikuti kegiatan keagamaan sesuai keyakinannya. Justru dari perbedaan itulah kami mengajarkan arti toleransi yang sesungguhnya,” ujar Dadang kepada Bantenekspres.co.id, Rabu 25 Febuari 2026.
Menurutnya, bulan Ramadan menjadi momentum penting untuk menanamkan nilai saling menghargai. Ketika siswa muslim menjalankan ibadah puasa dan memperbanyak membaca Al-Qur’an, siswa non muslim pun tetap difasilitasi untuk membaca kitab suci mereka.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa kebersamaan itu bukan karena kita sama, tetapi karena kita saling menghormati. Saat siswa muslim mengaji, siswa non muslim juga membaca Alkitabnya dengan khidmat. Mereka saling menjaga suasana agar tetap kondusif. Inilah pendidikan karakter yang kami bangun,” paparnya.
Ia juga menekankan, bahwa toleransi tidak hanya diajarkan lewat teori di dalam kelas, tetapi melalui pembiasaan dan contoh nyata di lingkungan sekolah.
“Kami selalu menanamkan kepada siswa bahwa menghargai teman yang berbeda keyakinan adalah bagian dari akhlak dan budi pekerti yang luhur. Jika sejak SMP mereka sudah terbiasa hidup dalam keberagaman dengan penuh rasa hormat, maka kelak mereka akan menjadi generasi yang mampu menjaga persatuan,” katanya.
Ia menjelaskan, Suasana harmonis itu terlihat jelas saat kegiatan keagamaan berlangsung. Para siswa saling memahami dan tidak mengganggu satu sama lain. Bahkan, mereka terbiasa saling mengingatkan untuk menjaga ketenangan saat temannya sedang beribadah.
“Perbedaan di SMPN 2 Cisoka justru menjadi kekuatan. Kami ingin membuktikan bahwa sekolah bisa menjadi miniatur Indonesia, tempat berbagai latar belakang bersatu dalam semangat saling menghargai,” pungkasnya.
Di tengah beragam tantangan kehidupan sosial, SMPN 2 Cisoka menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan nilai yang hidup dan tumbuh di antara generasi muda—sebuah bukti bahwa bersama bukan karena sama, tetapi karena saling menghormati. (*)












