TANGERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Pusat Pemerintahan (Puspem) Kota Tangerang mendadak berubah menjadi gedung resepsi besar nan meriah. Sebanyak 106 pasangan pengantin merayakan hari bahagia mereka pada gelaran “Tangerang Ngabesan”, salah satu rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Tangerang ke-33, Kamis, 12 Februari 2026.
Acara ini merupakan puncak dari prosesi sidang isbat nikah dan pencatatan perkawinan yang telah dilakukan sebelumnya.
Kegiatan ini bertujuan memberikan legalitas hukum bagi pasangan yang sebelumnya hanya menikah secara agama.
Wali Kota Tangerang, Sachrudin mengatakan, kegiatan Tangerang Ngabesan tahun ini terasa lebih spesial. Sebab, dari 106 pasangan pengantin terdiri dari 97 pasangan muslim dan 9 pasangan non-muslim. Hal ini menunjukan keberagaman warga Kota Tangerang.
“Semuanya kita fasilitasi, baik melalui Pengadilan Agama maupun pencatatan sipil. Ini adalah pesta rakyat yang murah meriah tapi penuh makna,” ujar Sachrudin di sela-sela acara.
ARak-arakan Tangerang Ngabesan yang kental dengan adat lokal dengan diiringi musik khas Betawi, Tanjidor mengawali prosesi resepsi. Di lokasi pelaminan, rombongan besan pun disambut dengan alunan musik Gambang Kromong.
Menurut Sachrudin, antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi, tidak hanya dari para pengantin, tetapi juga sanak saudara yang turut mengawal jalannya hajatan besar tersebut.
Gelaran Tangerang Ngabesan tersebut lebih dari sekadar seremoni. Kegiatan ini telah menjadi budaya tahunan yang konsisten dijalankan Pemkot Tangerang. Program ini menjadi solusi bagi warga yang terkendala biaya atau akses untuk mencatatkan pernikahannya secara negara.
“Kita bantu masyarakat yang belum punya kesempatan nikah secara negara. Tadi ada yang sudah menikah siri (secara agama) sejak tahun 70-an, baru sekarang tercatat secara resmi. Rentang usianya beragam, mulai dari yang muda sampai yang sudah tua,” jelas Sachrudin.
DIa berharap, kegiatan ini menjadi wadah silaturahmi akbar antara pemerintah dengan masyarakat, sehingga mempererat hubungan emosional antarwarga.
“Kegiatan ini juga diharapkan memperkuat identitas Kota Tangerang sebagai kota yang kaya akan nilai historis dan tradisi, yang mampu daya tarik wisatawan,” pungkasnya.(*)











