Debit Bendungan Sindangheula Masih Normal, BBWSC3 Sebut Banjir Kota Serang Disebabkan Pendangkalan Sungai

Situasi debit air pada Bendungan Sindangheula, di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang. Foto : BBWSC3/Bantenekspres.co.id

SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3) menyebutkan, banjir yang melanda Kota Serang sejak Sabtu 3 Januari sampai Minggu 4 Januari 2026, disebabkan oleh pendangkalan atau penyempitan sungai serta sumbatan sampah, bukan dikarenakan meluapnya Bendungan Sindangheula, di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang.

Berdasarkan data yang diperoleh, pada Sabtu 3 Januari 2026 Tinggi Muka Air (TMA) Bendungan Sindangheula mencapai 105,240 Mdpl masuk dalam kategori aman, dan pada Minggu 4 Januari 2026 TMA Bendungan Sindangheula mencapai 105,160 Mdpl yang juga masih masuk dalam kategori aman.

Bacaan Lainnya

Sehingga, tidak terjadi peluapan air sungai pada Bendungan Sindangheula meskipun hujan deras terus mengguyur sejak dua hari lalu, namun banjir yang terjadi di Kota Serang bukan dari luapan air sungai Bendungan Sindangheula.

Kepala BBWSC3 Dedi Yudha Lesmana mengatakan, kondisi air sungai pada Bendungan Sindangheula masih dalam kategori normal sejak Sabtu hingga Minggu, meskipun hujan deras terus mengguyur wilayah Kota Serang namun tidak ada luapan air sungai yang terjadi.

TMA pada Sabtu 3 Januari 2026, sekitar 105,240 Mdpl dan tampungan bendungan masih tersisa 14,7 persen, dan Minggu 4 Januari 2026 TMA bendungan sekitar 105,160 Mdpl dengan daya tampung tersisa 15,5 persen.

“Dengan TMA tersebut, kondisi Bendungan Sindangheula masih dalam statusnya normal tidak ada peluapan air,” katanya melalui keterangan tertulis, Senin 5 Januari 2026.

Dedi mengatakan, banjir yang terjadi di Kota Serang bukan diakibatkan oleh tingginya air dari Bendungan Sindangheula, yang membuat sungai meluap.

Namun, banjir yang terjadi di Kota Serang tersebut akibat dari aliran sungai yang telah menyempit atau mendangkal, dan sumbatan sampah yang membuat aliran irigasi tertutup.

“Banjir yang kemarin terjadi di Kota Serang, bukan dari luapan air sungai dari Bendungan Sindangheula. Tapi, kemungkinan dari sungai-sungai yang menyempit atau mendangkal dan sumbatan sampah,” ujarnya.

Dikatakan Dedi, pihaknya telah melaksanakan berbagai langkah cepat, guna menekan dampak banjir, serta menjaga keselamatan masyarakat di wilayah terdampak.

Penanganan dilaksanakan secara terpadu, melalui kolaborasi dan koordinasi intensif bersama pemerintah daerah, baik Pemprov Banten, Pemkab Serang, dan Pemkot Serang, dengan mengoptimalkan fungsi infrastruktur pengendali banjir, khususnya waduk, melalui penerapan pola operasi waduk secara ketat dan terukur.

“Langkah ini bertujuan untuk mengendalikan debit air, agar tetap berada dalam batas aman serta mengurangi risiko luapan ke wilayah hilir. Penanganan ke sejumlah titik kritis juga telah dilakukan, kami langsung mengerahkan alat berat berupa excavator dan mobil pompa ke titik-titik kritis banjir,” ucapnya.

Kata Dedi, petugas operasi dan pemeliharaan bersama Tim Satuan Tugas Pelaksanaan Pengendalian Banjir dan Air (SatgasLAK PBA), melakukan penelusuran lapangan secara intensif untuk memastikan setiap penanganan darurat berjalan efektif, terkoordinasi, dan tepat sasaran.

Penanganan darurat juga dilakukan, melalui pemasangan tanggul sementara menggunakan geobag dan bronjong, pada sungai-sungai yang meluap atau mengalami kerusakan tanggul, seperti Sungai Cikalumpang dan Sungai Ciwaka.

“Di kawasan permukiman terdampak, termasuk Perumahan Grand Sutera, telah dilakukan pemasangan geobag untuk menahan luapan Sungai Ciwaka, mencegah air kembali meluap ke kawasan permukiman sekitar. Selain itu, kegiatan normalisasi dan pembukaan jalur aliran air dilakukan pada bagian hilir Sungai Ciwaka, termasuk ke arah Bumi Ciruas Permai dua, guna mengembalikan kapasitas aliran sungai,” tuturnya.

Tidak hanya itu, Dedi mengaku, bersama unit kerja terkait juga telah menyiapkan langkah penanganan jangka panjang dengan mengutamakan keselamatan masyarakat serta keberlanjutan fungsi infrastruktur sumber daya air.

Upaya tersebut dilakukan, melalui rehabilitasi dan normalisasi pada sungai-sungai utama beserta anak sungai yang kondisinya kian
kritis, penguatan tanggul, serta pemulihan infrastruktur sumber daya air yang mengalami kerusakan.

“Langkah ini, merupakan bagian dari komitmen Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengembalikan kapasitas tampungan air, serta upaya meningkatkan ketahanan wilayah terhadap bencana banjir. Masyarakat diimbau, untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem serta terus mengikuti informasi dari sumber resmi, dan pihaknya akan terus hadir serta bersiaga dalam memastikan penanganan bencana berjalan cepat, tepat, dan terkoordinasi demi melindungi keselamatan dan kepentingan masyarakat,” katanya. (*)

Reporter : Agung Gumelar

Pos terkait